Sabtu, September 17, 2016

Independent Learner

“independent learner”

Seorang guru tentu tidak ingin membuat siswanya selalu tergantung kepadanya. Seorang guru seharusnya mampu membuat seorang siswa menghadapi permasalahannya sendiri, satu saat nanti. Jika berada di kelas, apalagi di awal pembelajaran satu ‘subject’, tentu peran seorang guru sangat dibutuhkan. Namun, setelah beberapa saat, sangat tidak bijaksana jika kemudian siswa itu terus menerus tergantung kepada gurunya. Dia harus mampu mandiri.

gambar diambil dari sini

Berpijak dari itulah maka aku mulai membiasakan para siswaku untuk tidak selalu bergantung padaku, terutama untuk sekedar tahu arti kata satu kata alias vocabulary (baru). Beberapa tahun yang lalu, ketika smart phones belum memasyarakat, aku biasa membawa dua tiga kamus ke dalam kelas, sehingga ketika ada siswa yang ingin bertanya arti satu kata, aku hanya menyodorkan kamus (English – English dictionary) kepadanya, dan memintanya untuk mencari tahu sendiri arti kata tersebut.

gambar dicopas dari sini

English – English dictionary (kamus Bahasa Inggris yang artinya juga ditulis dalam Bahasa Inggris) juga berguna untuk mengajari siswa untuk tahu bagaimana mengucapkan (to pronounce) satu kata dengan benar, jadi tidak hanya untuk mencari tahu artinya.

Fungsi kamus (dalam bentuk buku) ini tergeser oleh kamus elektronik, misal kamus “al**link”. Lebih mudah mencari, tidak perlu ngubek-ngubek halaman, plus kamus “al**link” yang bagus juga disertai feature bagaimana cara  mengucapkan kata itu.

Era kamus elektronik pun akhirnya berlalu dengan adanya smart phones. Kemana pun kita berada, biasanya telpon pintar ini akan kita bawa. Aku pun membolehkan siswaku membawa hapenya ke dalam kelas, dan menggunakannya ketika pelajaran, terutama untuk memfungsikan hape ini sebagai kamus.

Maka, tak ada lagi label “kamus berjalan” disematkan kepadaku, karena fungsinya telah diambil alih oleh hape. Untuk ini, aku sangat berterima kasih pada pencipta smart phones. LOL.

Guru (Bahasa Inggris) juga manusia lho, tak melulu perlu difungsikan sebagai kamus berjalan. LOL.


IB 17.33 17/09/2016

Sabtu, Februari 13, 2016

LGBTQ

Beberapa minggu terakhir di sosial media -- utamanya facebook, mengingat aku 'aktif' hanya di satu sosmed ini -- telah terjadi perbincangan yang super hangat tentang topik satu ini: LGBTQ. Terakhir aku menulis di blog (yang sudah lama sekali :D) aku belum menambahkan huruf Q. Ternyata perkembangannya lumayan pesat, hingga para pemerhati -- selain mereka yang terlibat di dalamnya -- telah menambahkan huruf Q yang bisa dijabarkan sebagai "queer", namun ada juga yang membacanya sebagai "questioning". Kata "queer" mengacu ke "cross dressing" people, kalau di Indonesia kata ini diterjemahkan sebagai "waria". Sedangkan kata "questioning" lebih luas maknanya, mengacu ke seseorang yang belum memutuskan -- masih bertanya-tanya -- apa jenis kelamin plus orientasi seksualnya.

Jika di tulisan ini, aku mengutip para antropolog bahwa manusia dibagi menjadi empat kategori, di link ini, voilaaa ... ternyata kategorinya bisa banyak sekali :) Isn't it very INTERESTING?

As you can guess, orang-orang yang menuliskan opininya maupun hanya sekedar share link tentang hal-hal yang berkenaan dengan LGBTQ terbagi dalam beberapa kelompok, minimal 3 kelompok (1) setuju alias mendukung (2) kontra sekaligus mengutuk (3) tidak jelas. LOL. Yang kumasukkan dalam kelompok ketiga ini adalah mereka yang tidak mengutuk namun juga tidak mendukung. Lebih detilnya lagi, mereka tidak mendukung pernyataan bahwa ada sekian persen manusia yang terlahir di dunia dengan membawa gen tertentu yang akan "membawa" mereka menjelma LGBTQ, namun juga tidak mengutuk dengan alasan para LGBTQ itu harus dirangkul, dibimbing untuk "dikembalikan" ke the so-called 'kodrat': bahwa yang terlahir dengan alat kelamin penis berarti mereka laki-laki hingga WAJIB hanya tertarik kepada perempuan, dan sebaliknya, yang terlahir dengan memiliki alat kelamin vagina otomatis mereka adalah perempuan dengan konsekuensi WAJIB bahwa mereka hanya boleh dan bisa tertarik kepada laki-laki.


Perbincangan tentang LGBTQ ini kian menarik ketika seorang AA Gym ikut bersuara untuk memboikot LINE hanya karena LINE menyediakan stiker yang mendukung LGBTQ. Lucunya, konon, dia menyuarakan pemboikotan ini lewat akun facebooknya, padahal jelas-jelas Mark Zuckerberg adalah pendukung LGBTQ. Mengapa dia tidak memboikot facebook sekalian? :) Dan orang-orang yang masuk dalam friendlist-ku di facebook ada yang memamerkan momen ketika mereka uninstall LINE dari hape mereka gegara adanya stiker yang mendukung LGBTQ.

Manusia memang lucu :) Atau mereka naif dan tidak mau tahu mereka telah memamerkan ketidaktahuan mereka? :D

IB180 16.48 13/02/2016

Pic was taken from this site :)
Ada kesalahan di dalam gadget ini