Rabu, Desember 21, 2011

Dosa Waris

Istilah ‘dosa waris’ dalam bidang pendidikan pertama kali kudengar dari seorang (ex) rekan kerja mungkin sekitar satu dekade yang lalu. Mengingat kita adalah guru Bahasa Inggris, contoh yang paling sering kita bahas waktu itu adalah pronunciation yang salah. Jika seorang guru salah mengajarkan pronunciation sebuah kata, (mungkin dikarenakan malas ngecek kamus), maka bisa dipastikan anak didiknya akan salah juga cara membaca kata tersebut. Jika anak didiknya ternyata menjadi guru, dan ‘take it for granted’ tanpa ngecek kamus, dia juga akan mengajarkan cara membaca yang salah.


Misal waktu aku duduk di bangku SMP, guru Bahasa Inggrisku mengajari cara membaca ‘flour’ seperti tulisannya /flour/. Guru waktu SMA juga membacanya sama, maka kupikir memang begitulah cara membacanya. Sampai akhirnya aku menjadi guru, bertemu sebuah buku dimana di dalamnya berisi berbagai jenis games, salah satunya adalah ‘homophones’. Yang dimaksud ‘homophones’ dalam Bahasa Inggris adalah ada dua atau lebih kata yang cara membacanya sama namun penulisannya berbeda, misal /eyes/ dengan /ice/, /two/ dengan /too/ atau /to/. Nah, di lembar game ini lah aku menemukan kata /flour/ yang disamakan pronunciationnya dengan /flower/. Tentu saja aku kaget dan langsung ngecek kamus. To my surprise, I just realized sekian tahun aku pun telah membaca kata ‘flour’ dengan salah.

Satu kata lain lagi adalah kata ‘vehicle’. Guru SMA-ku membacanya /vihaikel/. Waktu kuliah S1 dengan pede aku membacanya /vihaikel/. Di satu kesempatan, aku disalahkan oleh seorang teman sekelas, karena katanya cara membacanya adalah /vi’ikel/. Karena tidak terima (mosok guruku salah?) aku langsung ngecek kamus, dan mendapati ... memang guruku yang salah cara membacanya.

Kalau “hanya” salah pronunciation begini (mungkin) masih bisa dimaafkan; toh tidak menimbulkan kesalahan fatal yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa.

Yang lebih parah tentu adalah ketika seorang guru memberikan informasi yang salah kepada siswanya. Siswa menerima informasi itu apa adanya, dengan berbaik sangka, “masak guruku yang cerdas ini salah memberikan pengetahuan?” Namun ternyata memang sang guru mendapatkan informasi yang salah ketika (mungkin) masih duduk di bangku kuliah, took it for granted, dan memberikan pengetahuan yang salah itu kepada siswa-siswanya di kemudian hari.

Sebagai contoh:

Ketika kuliah S1, aku menerima jenis teori sastra masih sangatlah ‘terbatas’, teori yang merunut ke zaman ‘baheula’ dimana sebuah karya sastra hanya bisa digali dengan menggunakan empat pendekatan (alias teori),yakni pendekatan ‘ekspresif’, ‘objective’, ‘pragmatik’, dan ‘mimetik’. Belum kudengar jenis teori, semisal ‘New Criticism’, ‘Structuralism’, hingga ‘Feminism’ dan ‘Deconstruction’. Dll.

Ketika kuliah S2, seorang dosen senior, dalam kuliah “Literary Theories” mengajarkan teori ‘deconstruction’ tak ubahnya dengan pendekatan ‘objective’, hanya saja titik perhatiannya dibedakan. Misal, dalam novel Siti  Nurbaya karya Marah Rusli. Jika ‘biasanya’ yang dianalisis adalah tokoh Siti Nurbaya dan Samsul Bahri ketika menggunakan pendekatan ‘objective’, maka jika kita menggunakan teori ‘deconstruction’, kita mungkin akan memilih tokoh lain, misal, Datuk Maringgih.

“Then what, Ma’am?” tanya kita waktu itu.

Ya sudah, langkah berikutnya sama seperti ketika kita menggunakan pendekatan ‘objective’.

LHO KOK? Apa bedanya dong dengan pendekatan ‘objective’ kalau begitu? Bukankah dalam pendekatan ‘kuno’ ini seorang peneliti bebas menentukan unsur apa saja yang ada di dalam sebuah karya? Mau meneliti sang tokoh utama atau pun a very minor character, kan suka-suka sang peneliti?

Kebingungan ini kemudian membuat aku dan beberapa teman duduk bersama di kursi kantin, makan sekaligus diskusi bersama untuk memahami lebih lanjut penggunaan teori ‘deconstruction’ dalam melakukan penelitian sastra. Kemudian diskusi ini kita lanjutkan ke kelas lain, “The History of American Literary Criticism” yang diampu oleh seorang dosen muda.

Dari beliau lah akhirnya kita mendapatkan ‘pencerahan’. Kata ‘deconstruction’ bermula dari kata ‘to deconstruct’, yang bisa diterjemahkan secara bebas sebagai ‘memutarbalikkan apa yang ada’ dengan menggunakan kacamata lain.

Misal, jika menggunakan kacamata ‘lama’, maka tokoh Samsul Bahri adalah sang pahlawan yang berjuang memenangkan cintanya dengan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih adalah tokoh tua yang tidak tahu malu dan tidak sadar diri dengan kelapukannya ingin memperistri Siti Nurbaya yang masih muda dengan menyalahgunakan kemiskinan orang tua Siti Nurbaya.

Teori dekonstruksi sangat memungkinkan cara membaca yang dibalik: Datuk Maringgih adalah sang pahlawan negara, karena dia melawan penjajah Belanda pada waktu itu. Sedangkan Samsul Bahri justru merupakan antek Belanda karena dia bekerja untuk pemerintah Kompeni.

Penerbit novel ‘Siti Nurbaya’ adalah ‘Balai Pustaka’. Siapakah yang mendirikan BP? Pemerintah Belanda yang memang sengaja ingin meneruskan kelanggengan masa penjajahannya di bumi pertiwi melalui pintu yang ‘cerdas’: buku. Dengan cara menerbitkan buku-buku yang menuliskan betapa baik hati pemerintah penjajah Belanda pada penduduk pribumi, dan betapa penduduk pribumi yang lain bisa menjadi tokoh yang pantas dimusuhi (dalam hal ini Datuk Maringgih).

Kembali ke masalah utama ‘dosa waris’. Tentu masih banyak contoh yang bisa digali dalam kehidupan sehari-hari yang disebabkan oleh, salah satunya, a teacher’s not well-preparedness with his/her misleading knowledge.

PT56 08.53 211211

onit wrote on Dec 21, '11
aku inget waktu smp ada guruku yg ngotot because ditulis becouse. uh oh. tapi waktu itu gak bawa kamus, gak bisa buktiin. toh di test kutulis because gak disalahin :D -- gak tau bocah2 yg lain gimana..

afemaleguest wrote on Dec 21, '11
onit said
aku inget waktu smp ada guruku yg ngotot because ditulis becouse. uh oh. tapi waktu itu gak bawa kamus, gak bisa buktiin. toh di test kutulis because gak disalahin :D -- gak tau bocah2 yg lain gimana..
waktu masih kul S1, aku eyel-eyelan dengan seorang teman yang kul di IKIP Semarang jurusan Bahasa Inggris beberapa kata, misal 'caught' dia ngeyel tulisannya 'cought'

waaahhh ... kalo aku ga tunjukin kesalahannya , dia bakal mewariskan kesalahan itu ke anak didiknya, dan bisa jadi bakal turun temurun
^__^

rirhikyu wrote on Dec 21, '11
Tak pikir ttg dosa warisan beneran yg diajarkan diagama :p
Ternyatah dosa waris yg laen
:)

afemaleguest wrote on Dec 21, '11
rirhikyu said
Tak pikir ttg dosa warisan beneran yg diajarkan diagama :p
Ternyatah dosa waris yg laen
:)
hihihihih
^__^

srisariningdiyah wrote on Dec 21, '11
menarik soal datuk maringgih :)

afemaleguest wrote on Dec 21, '11
menarik
ada talinya kali ya?
hehehehe ...

martoart wrote on Dec 21, '11
Tulisan semacam ini yang baiknya banyak ditemui di MP. Trims, gak segan baca postingan asyik cem gini.

afemaleguest wrote on Dec 21, '11
martoart said
Tulisan semacam ini yang baiknya banyak ditemui di MP. Trims, gak segan baca postingan asyik cem gini.
tenkiu Kang ^__^

martoart wrote on Dec 21, '11
Kalau “hanya” salah pronunciation begini (mungkin) masih bisa dimaafkan; toh tidak menimbulkan kesalahan fatal yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa.
Kalo mo bilang "excuse me sir", terus salah jadi "executed me sir"... bisa fatal juga loh...

afemaleguest wrote on Dec 21, '11
martoart said
Kalo mo bilang "excuse me sir", terus salah jadi "executed me sir"... bisa fatal juga loh...
qiqiqiqiqiqi

rembulanku wrote on Dec 22, '11
oh tentang bahasa tho, tak kira dosa warisan yg betulan perbuatan dosa xixixi....

aku sekarang banyak lupanya mbak kalo bahasa inggris terlalu banyak ngomong ga inget nulisnya gimana *mlenceng seko topic*

afemaleguest wrote on Dec 22, '11
oh tentang bahasa tho, tak kira dosa warisan yg betulan perbuatan dosa xixixi....
kayak Febbie, salah kira di awal
hihihihihi

rawins wrote on Dec 23, '11
aku bego banget bahasa inggris
karena kutukan waris juga kayaknya..

afemaleguest wrote on Jan 12
rawins said
aku bego banget bahasa inggris
karena kutukan waris juga kayaknya..
walaaahhhh ...
find a scape goat!
yay!!!
hihihihihi

dinantonia wrote on Jan 12
ya, ya... mayan banyak juga cara pronunciation yang ternyata saya salah ketahui, misalnya pyramid (pi- bukan pay-), decisive (decaysive, bukan decisive). Juga finance bisa dibaca fahy- atau fi-... Saya juga terkadang salah memberi info ke anak2. Learning by doing lah :D

afemaleguest wrote on Jan 12
Learning by doing lah :D
:-D

Becoming Jane

diambil dari sini

BECOMING JANE: Being an author as well as a wife?


Film ini konon terinspirasi oleh kehidupan nyata Jane Austen (1775-1817), seorang penulis dari Inggris yang sampai sekarang beberapa karyanya tetap saja digemari, misalnya “Pride and Prejudice”, “Sense and Sensibility”, “Persuasion”, “Mansfield Park” dan “Emma”.

Jane digambarkan mirip dengan tokoh perempuan yang dia tulis dalam novel-novelnya: cerdas, kritis, gemar membaca, berwawasan luas dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dan bahwa seorang perempuan menulis di zaman dahulu merupakan suatu skandal yang tidak layak dilakukan pun diungkapkan dalam film “Becoming Jane” ini. “Pen” yang merupakan ‘senjata’ orang dalam menulis (sebelum mesin ketik ditemukan, terlebih lagi keyboard komputer diciptakan), konon merupakan singkatan dari kata “penis”. Maka layaklah jika di zaman dulu hanya laki-laki yang dianggap layak menulis karena mereka lah pemilik senjata tersebut: penis. Perempuan akan mendapatkan kecaman yang sangat keras dari masyarakat jika ingin coba-coba memiliki profesi yang diklaim oleh kaum laki-laki ini.

Meski sempat dijadikan bahan debat apakah memang benar seorang Jane Austen pernah memiliki hubungan khusus dengan seseorang yang bernama Thomas Lefroy alias Tom, dalam film ini kisah kasih mereka berdua mendapatkan porsi yang cukup untuk menarik perhatian penonton. Dalam satu kunjungan ke rumah paman Thomas – untuk meminta restu dari sang paman agar Tom dan Jane bisa menikah – Tom mengajak Jane berkunjung ke rumah seorang penulis perempuan yang mendapatkan penghasilan yang cukup dari menulis, Mrs. Radcliffe. Perbincangan mereka berdua sangat menarik perhatianku.

diambil dari sini

Jane menyatakan keterkejutannya ketika tahu kehidupan Mrs. Radcliffe yang nampak sangat tentram dan damai, padahal novel-novel yang dihasilkan oleh Mrs. Radcliffe begitu penuh kejutan, teror, dan sebagainya. Dari penjualan novel-novelnya lah Mrs. Radcliffe menghidupi keluarganya, sang suami tidak begitu sukses dalam karirnya.

“Is it difficult to be an author as well as a wife?” tanya Jane polos.

Pertanyaan yang terdengar innocent bagiku ini mengingatkanku pada dua hal.

Pertama, Nh Dini. Di awal tahun 2008 aku berkesempatan menghadiri sebuah” acara berbincang-bincang dengan Nh Dini, dimana pada waktu itu beliau juga mempromosikan novelnya yang berjudul “Argenteuil”. Aku sempat bertanya bagaimana dia bisa mengingat semua kisah detil dalam hidupnya yang kemudian dia tulis dalam karya novel yang dia beri label “cerita kenangan” yang berarti otobiografinya. Sedikit latar belakang, Nh Dini pernah menikah dengan seorang Konsul yang tentu membuatnya sangat sibuk. Nh Dini menjelaskan bahwa (mantan) suaminya tahu kegemarannya menulis sehingga dia diperbolehkan meluangkan waktu untuk menulis apa-apa yang ingin dan perlu dia tulis dalam diary. “Konsensus” umum yang berlaku dalam masyarakat bahwa setelah menikah maka pasangan hidupmu lah yang menjadi diary ‘hidup’ tempatmu mengadu, berkisah dan lain sebagainya (sehingga ada juga ‘kepercayaan’ bahwa kebanyakan perempuan yang menjadi seorang istri sebaiknya meninggalkan kebiasaan menulis diary untuk beralih berbincang dengan suaminya) tidak berlaku dalam diri seorang Nh Dini. Dia tetap menulis, dimana catatan-catatannya ini sangat berguna ketika dia menulis novel “cerita kenangan”.

Nh Dini paling tidak telah membuktikan bahwa “it is possible to be an author as well as a wife at the same time.” :) Meskipun toh akhirnya Jane Austen tidak menikah hingga di akhir hidupnya.

Kedua, Anna Wickham. Penyair dari Inggris (1884-1947) menulis dalam bait pertama puisinya yang berjudul “Dedication of the Cook”:
If any ask why there’s no great She-Poet,
Let him come live with me, and he will know it:
If I’d indite an ode or mend a sonnet,
I must go choose dish or tie a bonnet;
Dalam salah satu percakapan antara Jane dan Tom, Tom menyatakan bahwa tidaklah mungkin seorang perempuan akan menjadi seorang penulis sehandal laki-laki. Tak seorang pun penulis perempuan akan mencapai kesuksesan yang setara dengan laki-laki. Namun Tom tidak menyebutkan alasannya mengapa.

Jika pernyataan Tom ini dikaitkan dengan apa yang ditulis oleh Anna Wickham pada bait pertama di atas, ada hubungan antara profesi menulis dengan ‘kewajiban’ seorang perempuan sebagai istri.

Namun ketika Jane bertanya kepada Mrs. Radcliffe, “Is it difficult to be an author as well as a wife?” tidak dijawab secara gamblang oleh seorang Mrs. Radcliffe.

Bagi para pecinta karya-karya Jane Austen, film “Becoming Jane” lumayan menjadi tontonan yang sedikit memberi gambaran bagaimana seorang Jane Austen akhirnya menjadi seorang penulis. Dia tidak jadi menikahi Tom lelaki yang dicintainya meski miskin, namun juga tidak menikahi Mr. Wisley yang kaya raya yang mengaku mencintainya bukan karena dia berpikir bahwa akan sulit menjadi seorang penulis sekaligus seorang istri. Dia memutuskan untuk tidak menikahi Tom karena dia tahu Tom harus bekerja untuk menafkahi keluarga dan adik-adiknya. Jane juga tetap menolak menikahi Mr. Wisley karena dia tidak mau menikah tanpa rasa cinta.

PT56 13.10 211211
Ada kesalahan di dalam gadget ini