Sabtu, September 17, 2016

Independent Learner

“independent learner”

Seorang guru tentu tidak ingin membuat siswanya selalu tergantung kepadanya. Seorang guru seharusnya mampu membuat seorang siswa menghadapi permasalahannya sendiri, satu saat nanti. Jika berada di kelas, apalagi di awal pembelajaran satu ‘subject’, tentu peran seorang guru sangat dibutuhkan. Namun, setelah beberapa saat, sangat tidak bijaksana jika kemudian siswa itu terus menerus tergantung kepada gurunya. Dia harus mampu mandiri.

gambar diambil dari sini

Berpijak dari itulah maka aku mulai membiasakan para siswaku untuk tidak selalu bergantung padaku, terutama untuk sekedar tahu arti kata satu kata alias vocabulary (baru). Beberapa tahun yang lalu, ketika smart phones belum memasyarakat, aku biasa membawa dua tiga kamus ke dalam kelas, sehingga ketika ada siswa yang ingin bertanya arti satu kata, aku hanya menyodorkan kamus (English – English dictionary) kepadanya, dan memintanya untuk mencari tahu sendiri arti kata tersebut.

gambar dicopas dari sini

English – English dictionary (kamus Bahasa Inggris yang artinya juga ditulis dalam Bahasa Inggris) juga berguna untuk mengajari siswa untuk tahu bagaimana mengucapkan (to pronounce) satu kata dengan benar, jadi tidak hanya untuk mencari tahu artinya.

Fungsi kamus (dalam bentuk buku) ini tergeser oleh kamus elektronik, misal kamus “al**link”. Lebih mudah mencari, tidak perlu ngubek-ngubek halaman, plus kamus “al**link” yang bagus juga disertai feature bagaimana cara  mengucapkan kata itu.

Era kamus elektronik pun akhirnya berlalu dengan adanya smart phones. Kemana pun kita berada, biasanya telpon pintar ini akan kita bawa. Aku pun membolehkan siswaku membawa hapenya ke dalam kelas, dan menggunakannya ketika pelajaran, terutama untuk memfungsikan hape ini sebagai kamus.

Maka, tak ada lagi label “kamus berjalan” disematkan kepadaku, karena fungsinya telah diambil alih oleh hape. Untuk ini, aku sangat berterima kasih pada pencipta smart phones. LOL.

Guru (Bahasa Inggris) juga manusia lho, tak melulu perlu difungsikan sebagai kamus berjalan. LOL.


IB 17.33 17/09/2016

Sabtu, Februari 13, 2016

LGBTQ

Beberapa minggu terakhir di sosial media -- utamanya facebook, mengingat aku 'aktif' hanya di satu sosmed ini -- telah terjadi perbincangan yang super hangat tentang topik satu ini: LGBTQ. Terakhir aku menulis di blog (yang sudah lama sekali :D) aku belum menambahkan huruf Q. Ternyata perkembangannya lumayan pesat, hingga para pemerhati -- selain mereka yang terlibat di dalamnya -- telah menambahkan huruf Q yang bisa dijabarkan sebagai "queer", namun ada juga yang membacanya sebagai "questioning". Kata "queer" mengacu ke "cross dressing" people, kalau di Indonesia kata ini diterjemahkan sebagai "waria". Sedangkan kata "questioning" lebih luas maknanya, mengacu ke seseorang yang belum memutuskan -- masih bertanya-tanya -- apa jenis kelamin plus orientasi seksualnya.

Jika di tulisan ini, aku mengutip para antropolog bahwa manusia dibagi menjadi empat kategori, di link ini, voilaaa ... ternyata kategorinya bisa banyak sekali :) Isn't it very INTERESTING?

As you can guess, orang-orang yang menuliskan opininya maupun hanya sekedar share link tentang hal-hal yang berkenaan dengan LGBTQ terbagi dalam beberapa kelompok, minimal 3 kelompok (1) setuju alias mendukung (2) kontra sekaligus mengutuk (3) tidak jelas. LOL. Yang kumasukkan dalam kelompok ketiga ini adalah mereka yang tidak mengutuk namun juga tidak mendukung. Lebih detilnya lagi, mereka tidak mendukung pernyataan bahwa ada sekian persen manusia yang terlahir di dunia dengan membawa gen tertentu yang akan "membawa" mereka menjelma LGBTQ, namun juga tidak mengutuk dengan alasan para LGBTQ itu harus dirangkul, dibimbing untuk "dikembalikan" ke the so-called 'kodrat': bahwa yang terlahir dengan alat kelamin penis berarti mereka laki-laki hingga WAJIB hanya tertarik kepada perempuan, dan sebaliknya, yang terlahir dengan memiliki alat kelamin vagina otomatis mereka adalah perempuan dengan konsekuensi WAJIB bahwa mereka hanya boleh dan bisa tertarik kepada laki-laki.


Perbincangan tentang LGBTQ ini kian menarik ketika seorang AA Gym ikut bersuara untuk memboikot LINE hanya karena LINE menyediakan stiker yang mendukung LGBTQ. Lucunya, konon, dia menyuarakan pemboikotan ini lewat akun facebooknya, padahal jelas-jelas Mark Zuckerberg adalah pendukung LGBTQ. Mengapa dia tidak memboikot facebook sekalian? :) Dan orang-orang yang masuk dalam friendlist-ku di facebook ada yang memamerkan momen ketika mereka uninstall LINE dari hape mereka gegara adanya stiker yang mendukung LGBTQ.

Manusia memang lucu :) Atau mereka naif dan tidak mau tahu mereka telah memamerkan ketidaktahuan mereka? :D

IB180 16.48 13/02/2016

Pic was taken from this site :)

Jumat, Desember 18, 2015

Poligami versus Selingkuh



Sesungguhnyalah tidak ada beda dari praktik poligami dengan selingkuh. Keduanya mengacu ke kenyataan bahwa salah satu dari pasangan suami/istri telah melabuhkan hatinya pada orang lain, tak lagi menyetiai pasangan awal yang telah (mungkin) mereka pilih sendiri untuk mereka nikahi. Apa pun alasan yang mereka gunakan ketika melabuhkan hati ke dermaga lain ini.

Lalu bedanya apa dong?

Bedanya adalah jika praktik poligami 'dilindungi' (interpretasi kaum lelaki atas) Surat An-Nisa ayat 3, sehingga lelaki pun merasa berhak untuk melakukannya. Apalagi jika interpretasi "kamu boleh menikahi dua, tiga, perempuan yang kamu pilih" bersifat egoistis (plus konyol) yakni merupakan perintah Tuhan kepada kaum lelaki. Hal ini berarti menafikan lanjutan ayat tersebut yang berbunyi "Namun jika kamu takut tak bisa berbuat adil, maka nikahilah hanya satu perempuan saja." Plus ayat 129 dari surat yang sama yang bisa diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai, "... meskipun kamu ingin berbuat adil, kamu tidak akan bisa ..."


FYI, poligami disini maknanya poligini, yakni satu laki-laki dengan lebih dari 1 istri. Sedangkan poliandri tak diperkenankan, kecuali jika kata "perempuan" dalam ayat 3 itu bisa juga diterjemahkan sebagai "laki-laki" atau "suami". :-D

Bagaimana dengan selingkuh? Tentu saja tak satu ayat pun membolehkannya. Maka, terlihatlah secara jelas diskriminasi kepada kaum perempuan. Laki-laki (bahkan) dilindungi untuk berpindah ke lain hati, sedangkan perempuan tidak. Laki-laki (mungkin) akan mendapatkan pujian sebagai lelaki sejati, sedangkan perempuan akan dikategorikan sebagai 'bitch', perempuan binal, nakal, dan sejenisnya.

Inilah mengapa aku setuju pada pendapat Ayu Utami bahwa dia tidak mendukung poligami, karena jelas-jelas telah terjadi praktik kekerasan terhadap kaum perempuan, dan atas nama agama, pelakunya tidak diganjar hukuman (berupa masuk neraka, misalnya). Sebaliknya, Ayu Utami lebih pro ke selingkuh, karena itu berarti baik laki-laki maupun perempuan sama-sama melakukan kesalahan, tak satu pun dilindungi ayat alquran. Jika laki-laki harus kehilangan nama baiknya di masyarakat, perempuan pun sama. Jika laki-laki mendapatkan applause, perempuan pun juga. LOL. Equal. :-D

N.B.

Baca tulisanku tentang poligami disini.
Tulisanku tentang poligami dalam Bahasa Inggris bisa diakses disini.

IB180 12.35 19/12/2015

Pic diambil dari sini

Jumat, Agustus 15, 2014

Pilpres 2014

Seingatku tak pernah aku merasa begitu 'terlibat' dalam sebuah pemilihan umum, termasuk pemilihan presiden. Seperti kebanyakan orang, pilpres tahun ini memang demikian istimewa. Yes, you can guess, JOKOWI lah penyebab semua ini.

Aku termasuk orang yang apatis dalam kehidupan politik, sejak dulu. Jika dalam blognya Dee Lestari menulis bahkan sejak pertama kali dia ikut pemilu, dimana waktu itu hanya ada 3 kontestan, dan dia tahu cara curang Golkar memenangkan pemilu, dia telah menjadi golput semenjak usianya mencukupi untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu. Aku tidak. Aku adalah tipe warga negara yang penurut, (duluuuuu). Sudah tahu Golkar selalu curang, ya aku tetap ikut mencoblos, sejak pertama kali aku berhak ikut.

Aku menjadi golput di pemilu 2004, ketika melihat bahwa reformasi yang didengung-dengungkan sejak tumbangnya orde baru tahun 1998, tidak menunjukkan perkembangan apa-apa dalam kehidupan perpolitikan di Indonesia. (Nampaknya begitu.) Okelah yang menang tidak lagi Golkar -- pemilu tahun 1999 dimenangkan PDIP, tahun 2004 dimenangkan Partai Demokrat -- namun korupsi, kolusi, dan nepotisme tetap marak. Bahkan mungkin kian marak, jumlah kasus korupsi kian meningkat. Entah kian meningkat atau karena sekarang sudah zaman internet, segala hal kian transparan. Atau karena pemimpin Indonesia tidak sediktator presiden Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun ya? Hukum tetaplah menajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Aku menjadi golput lagi di tahun 2009. SBY terpilih lagi. Sialnya di periode kedua SBY segala hal justru memburuk. Kekerasan terhadap minoritas atas nama agama; kasus huk sum yang terkatung-katung; kian merajalelanya front-front yang menyalahgunakan nama agama. Capek banget rasanya membaca berita setiap hari.

JOKO WIDODO

Istilah satrio piningit mulai muncul setelah tumbangnya Orde Baru. Aku pun ikut berharap-harap cemas akan ada seorang satrio piningit yang ditunggu-tunggu. Sekian nama disebut, sekian orang diberi harapan besar. Sekian kekecewaan ternyata tetaplah menyertai.

Hal ini membuatku berpikir bahwa kekuasaan ternyata berdampak sangat buruk. Orang yang dulunya baik pun akan berubah menjadi tamak -- bisa jadi jahat -- jika memegang tampuk kekuasaan. Mungkin aku pun -- yang mengaku pada diri sendiri adalah orang baik -- akan berubah menjadi tamak jika berada di posisi yang sama.

Aku lupa kapan pertama kali aku mendengar nama JOKO WIDODO. Mungkin sekitar tahun 2010 ketika aku sedang menjadi salah satu 'jury' dalam satu event AFS (exchange students). Seorang calon siswa yang akan dikirim keluar negeri kebetulan berasal dari Solo. Ketika diminta berpidato tentang salah satu tokoh Indonesia yang menginspirasi, dia memilih walikota Solo yang lebih dikenal dengan nama Jokowi. That name absolutely didn't ring a bell at all to me. :)

Dan aku tetaplah apatis. Masak ada pejabat di Indonesia yang sama sekali tidak terlibat kasus korupsi, kolusi dan nepotisme? Barangkali belum ketahuan aja lah. :)

Tahun 2011 pertama kali aku berkunjung ke Solo dan menginap disana dua malam. Oh, kota ini berbeda ternyata. Aku terkesan dengan trotoarnya yang sangat friendly terhadap pejalan kaki, pesepeda, dan para penjual kaki lima. (Yang ada di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.) Aku juga terkesan dengan Taman Balekambang dan bus wisata tingkat duanya. Pelaksanaan CFD (Car Free Day) juga jauh lebih terkesan rapi dibanding dengan pelaksanaan CFD di Semarang.

Karena kiprah Jokowi ya? Wow.

Di luar dugaan kemudian Jokowi 'dibawa' hijrah ke ibukota! Meski tidak secara langsung mengikuti perkembangan politik di tanah air, waktu pilgub di Jakarta tahun 2012, aku yakin Jokowi bakal menang. Aku tidak peduli apakah waktu itu yang membawa ke Jakarta adalah Jusuf Kalla, Megawati, atau bahkan Prabowo Subianto. Aku tidak peduli. Jokowi seemed an honest and hardworking person. And trustworthy too!

Waktu itu pun diam-diam aku mulai berharap jika memang Jokowi adalah orang yang jujur, pekerja keras dan memiliki kredibilitas tinggi terhadap pekerjaannya, mengapa dia tidak dicalonkan jadi presiden ya dalam pilpres tahun 2014? Tapi kan dia baru menjelang dua tahun menjadi gubernur Jakarta. Bakal diprotes banyak orang ga ya?

Harapanku yang sifatnya diam-diam itu ternyata disambut oleh beberapa orang yang kukenal lewat FB, salah satunya Muhammad Amin yang banyak dikritik juga dipuja para facebooker Indonesia karena status-status spiritualnya yang kontroversial. Awal tahun 2013, dia bahkan sudah mulai menyebar 'harapan' atau 'kampanye' di FB untuk membawa Jokowi ke kursi nomor satu di Indonesia.

Aku senang. Honestly. Ada harapan baru untuk masa depan Indonesia!

Namun aku belum 'tergerak' untuk ikutan mengkampanyekan Jokowi di media sosial.

Usai pileg bulan April 2014 dan melihat perolehan suara PDIP yang kurang dari 20% membuatku miris. Namun satu hal yang membuatku akhirnya ikutan 'berkampanye' (semampuku) lewat media sosial adalah ketika seorang facebooker yang ada di list pertemananku, yang di tahun 2010 lalu pernah lumayan dekat dan sok curhat, membaptis diri sebagai 'srikandi gerindra'. Entah mengapa aku tidak terima. LOL.

Maka mulailah aku ngeshare link-link berita positif tentang Jokowi, dan ... link-link berita negatif terhadap PS. LOL. Tidak hanya lewat FB namun juga twitter. Mendadak kehidupan media sosial-ku begitu menggairahkan! Tak ketinggalan juga tentu aku pun memasang foto "I stand on the right side" untuk foto profile.


Hanya itu yang bisa kulakukan untuk -- semoga bisa -- mendongkrak jumlah para voter untuk mencoblos Jokowi. Selain juga menulis status agar tidak menjadi golput. Jika di pilpres sebelumnya golput adalah satu cara protes kepada negara, tahun ini golput berarti membiarkan capres yang tidak layak dipilih mendapat keuntungan dari kecuekan warga negara.

Well, pilpres sudah selesai. Jokowi sudah dinyatakan menang oleh KPU, meski saat ini kubu capres yang kalah masih berupaya menjegal Jokowi di MK. Bahkan mungkin ga akan berhenti di MK. Kubu mereka mungkin akan meneror pemerintahan Jokowi dengan cara-cara kasar seperti yang selama ini mereka lakukan. Semoga barisan relawan Jokowi akan terus diberi kekuatan untuk mendampingi Jokowi, hingga akhirnya kubu capres sebelah mengakui bahwa Jokowi-lah pilihan tepat untuk membawa perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik. (minimal bagiku hukum tak lagi tajam ke bawah namun tumpul ke atas; tak ada lagi diskriminasi terhadap kaum minoritas; semoga dilanjutkan dengan dibubarkannya front-front yang tidak jelas, hanya menyalahgunakan nama agama; KPK bekerja jauh lebih tegas dan tajam, tak ada perlindungan terhadap koruptor, meski pejabat tinggi sekalipun sehingga kasus korupsi berkurang atau menghilang sama sekali.)

Semoga pemerintahan Jokowi adalah titik tolak Indonesia baru, dipimpin oleh para pejabat yang memang hanya mengabdi untuk rakyat. Semoga!

PT56 21.40 15/08/2014

Senin, Agustus 26, 2013

Primitif = ketinggalan zaman?

Satu kali di kelas "Cultural Eras" yang diampu oleh Professor Hugh Egan, kita membahas tentang Christopher Columbus yang di satu waktu dielu-elukan oleh 'history' (yang bisa diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia 'kisahnya') sebagai seorang 'penemu' benua Amerika jelang akhir abad 15. Waktu ditemukan oleh Columbus dan crew-nya, benua Amerika tidak benar-benar kosong tanpa penghuni, karena sudah ada yang mendiami benua yang maha luas itu: sekelompok (atau mungkin juga berkelompok-kelompok karena mereka terbagi dalam suku-suku) manusia yang kemudian oleh Columbus disebut sebagai kaum "Indian". Padahal ini adalah 'penamaan' yang salah. Columbus waktu itu dalam ekspedisi untuk mencari kawasan Hindia / India yang kaya akan rempah-rempah, namun kemudian kapalnya ter'dampar' di benua Amerika. Merasa sudah sampai di kawasan yang dia cari, maka Columbus dkk menyebut kelompok manusia yang ditemui di benua Amerika sebagai "Indian".

Menurut 'history' alias kisahnya Columbus dia menemukan benua Amerika dimana para penduduknya hidup secara 'primitif' karena mereka tidak paham bahasa yang digunakan oleh kaum 'Native American' ini; karena kaum Native American ini memiliki tradisi dan gaya hidup yang berbeda dengan Columbus dan crew-nya.

Apakah 'primitif' itu?

Menurut Free Dictionary kata primitif berarti



  1. not derived from something else, primary or basic
  2. (a) of or relating to an earliest or original state, (b) being little evolved from an early ancestral type
  3. characterized by simplicity or crudity
  4. of or relating to a nonindustrial, often tribal culture
Mengacu ke arti kata primitif di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa kaum 'Native American' dianggap masih asli, belum mendapatkan banyak pengaruh dari budaya luar. Mereka memiliki tradisi dan budaya sendiri, misal cara berpakaian (konon mereka belum pernah melihat 'pantalon' yang telah menjadi busana orang-orang Eropa waktu itu, sehingga tidak tahu bagaimana cara mengenakan celana panjang :) Di satu buku yang pernah kubaca, ketika orang Native American itu diberi hadiah berupa celana panjang, dan si orang Eropa tidak mengajarinya bagaimana cara mengenakannya, si orang Native American ini naik ke atas pohon, sementara seorang temannya memegangi celana panjang, untuk kemudian orang yang naik ke atas pohon melompat ke dalam celana. Cara yang sama sekali tidak praktis. :)), cara bersosialisasi, cara bertahan hidup (mereka sudah tahu cara bercocok tanam dan berburu yang lebih 'canggih' ketimbang orang-orang Eropa), hingga bahasa. 

Semenjak Columbus 'menemukan' (yang di beberapa dekade terakhir kata 'menemukan' ini kemudian diganti 'menjajah' oleh orang-orang Amerika sendiri -- juga para sejara(h)wan terkini, lama kelamaan cara hidup orang-orang Native American berubah. Benua Amerika mungkin akan tetap sunyi jika Columbus tidak menemukannya, eh, menjajahnya. Namun mungkin kaum Native American akan tetap menjadi 'tuan' di tanah yang telah mereka diami sekian ratus tahun, dan tidak tereliminasi di 'reservation areas'. 

Apakah kemudian kita bisa mengatakan bahwa yang 'primitif' itu jelek? Ketinggalan zaman? 

*****

Beberapa abad setelah Columbus 'menemukan' Amerika dan kemudian berbondong-bondong orang Eropa -- diawali oleh orang-orang Inggris -- bermigrasi ke benua Amerika, orang-orang Eropa dari Portugal melakukan ekspedisi untuk mencari 'the real Hindia' dan menemukan rute ke Nusantara, masih dalam rangka berburu rempah-rempah. 

Kita tentu tahu kelanjutan kisah ini. Orang-orang Portugis itu tidak hanya melakukan perdagangan rempah-rempah dengan nenek moyang kita di bumi Nusantara, namun tinggal untuk menjajah. Dan 'history' di benua Amerika tentu juga terjadi di bumi Nusantara. Orang-orang Belanda yang kemudian menggantikan kedudukan orang Portugis tentu juga menganggap nenek moyang kita 'primitif', primitif yang sayangnya telah mengalami degradasi makna, karena kata primitif dimaknai sebagai ketinggalan zaman. Tata cara kehidupan nenek moyang kita pun mengalami perubahan agar tidak ketinggalan zaman, tradisi 'asli' nenek moyang kita pun berangsur-angsur menghilang. 

Salah satu tradisi yang hilang itu adalah cara berpakaian. Sangatlah dipahami jika nenek moyang kita berbusana yang terbuka -- misalnya topless -- karena kondisi negara kita yang tropis hingga cukup panas. Sementara itu para penjajah yang berasal dari negara yang berhawa dingin berpakaian lebih tertutup. Bisa dibayangkan jika kemudian nenek moyang kita -- terutama perempuan -- dijadikan 'tontonan' yang sangat eksotis bagi kaum penjajah. Dengan suka cita para kaum penjajah -- terutama laki-laki -- berbondong-bondong ke bumi Nusantara untuk mendapatkan tontonan gratis. (Ini bisa disimpulkan dari beberapa video yang diunggah di youtube.com misal di link ini If you are lucky, hope you still can open the link and watch it.) 

*****

Di satu kesempatan ketika konsultasi tesis dengan dosen pembimbing yang juga dikenal sebagai budayawan Jogja -- Professor Bakdi Soemanto -- beliau bercerita satu kali diajak oleh beberapa orang yang juga dianggap 'budayawan' untuk melakukan satu misi khusus ke Papua. Pak Bakdi bertanya misi apakah itu.

"Misi kita kali ini istimewa, yaitu mengajak saudara-saudara kita yang masih terbelakang untuk lebih bermoral karena masih mengenakan busana yang terbuka. Kita akan mengajak mereka meninggalkan tradisi primitif mereka dan mulai mengenakan busana tertutup."

Apakah lantas kata primitif selalu berkonotasi tidak bermoral? Siapa yang memberi hak pada sekelompok orang yang merasa diri lebih tinggi dibanding yang lain hanya gara-gara tradisi dan budaya yang berbeda? 

Dengan sengaja tulisan ini tidak kuakhiri dengan kesimpulan. The conclusion is in yours, readers. 

Beberapa foto yang kuunduh dari internet bisa dilihat di bawah ini. 
diunduh dari sana
diunduh dari link ini
diundah dari link situ 
diunduh dari link yang lain
Sedikit kisah tentang koteka bisa dilihat disini.

Salam budaya! Nothing higher nothing lower! 

GG 12.15 270813

Minggu, Juli 07, 2013

JALAN RAYA : MILIK SIAPA?

JALAN RAYA : MILIK SIAPA?

JALUR SEPEDA DI KOTA SEMARANG

Dengan semakin semaraknya jalan raya dengan para pesepeda, dan juga rasa ‘iri’ terhadap beberapa kota lain di Indonesia yang telah memiliki jalur sepeda, di tahun 2010 (tanggal 11 April dan 6 Juni 2010) Komunitas B2W (Bike to Work) Semarang mengadakan talk show yang diberi tajuk DESAK PEMERINTAH SEMARANG UNTUK MENYEDIAKAN JALUR SEPEDA DI KOTA SEMARANG. Di talk show yang kedua, Ari Purbono, selaku ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah waktu itu (yang juga diajukan sebagai calon wali kota Semarang oleh sebuah Partai Politik) berjanji bahwa jalur sepeda akan segera direalisasikan. Guntur Risyadmoko, salah satu keynote speaker dari Dinas Perhubungan mengiyakan pernyataan ini, paling lambat akhir tahun 2011.

Awal tahun 2012

jalur sepeda di Semarang, foto dijepret 7 Juli 2013

Jalur sepeda akhirnya memang ada di Semarang! Untuk mewujudkan janji menyediakan jalur sepeda, pemerintah memilih Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, Jalan Pahlawan, Jalan Ahmad Yani dan kawasan Simpang Lima, jalan-jalan utama kota Semarang. Jalur sepeda yang ditandai dengan marka garis berwarna kuning, dengan gambar sepeda di tengah-tengah, berada di sisi paling kiri, lebar sekitar satu meter. Jalur sepeda ini bisa didapati di dua jalur yang berlawanan, misal di Jalan Pemuda, di jalur yang menuju arah Utara, maupun di jalur yang menuju arah Selatan.

Akan tetapi ketika ditelusuri, jalur sepeda itu tidak benar-benar bisa dinikmati oleh para pesepeda, karena sering jalur itu justru dipakai untuk parkir mobil maupun motor. Apalagi di Jalan Pandanaran dimana terletak toko-toko yang berjualan makanan oleh-oleh asli Semarang. Di depan toko-toko tersebut, tak lagi terlihat jalur sepeda, karena dipenuhi dengan mobil yang berderet parkir.

Maka kemudian muncul tuduhan bahwa jalur sepeda ini akan mematikan ladang rezeki tukang parkir. Atau menyulitkan para pemilik usaha untuk menyediakan lahan parkir karena terbatasnya ruang yang ada.

Jika kemudian jalur sepeda itu tidak benar-benar dimanfaatkan untuk melajunya para pesepeda, lantas untuk apakah jalur sepeda itu disediakan? Hanya sekedar untuk menghamburkan uang rakyat? Lalu bagaimana menyelesaikan masalah parkir?

REBUT RUANG KOTA

Mulai pertengahan tahun 2010, ada gerakan “menyepedakan masyarakat” dengan jargon REBUT RUANG KOTA! Tidak jelas siapa yang melontarkan ide yang menggunakan istilah “critical mass” ini. Di Semarang event ini disebut “Semarang Critical Mass Ride” yang dilaksanakan setiap hari Jumat terakhir tiap bulan. Para pesepeda berkumpul di Jalan Pahlawan pukul 19.00 dan kemudian bersepeda bersama-sama keliling kota, sesuai rute yang dipilih pada hari itu.

nite ride 30 Juli 2010

Sesuai dengan jargonnya, gerakan ini konon diharapkan akan mampu merebut ruang kota hanya untuk para pesepeda, tak lagi ada tempat untuk mereka yang menaiki kendaraan bermotor. Di awal penyelenggaraannya, ratusan pesepeda yang hadir benar-benar memenuhi badan jalan di seluruh rute yang dilewati, hingga tak menyisakan tempat bagi pengguna jalan lain, tanpa ada “road captain” yang memimpin, tanpa “marshall” yang mengawasi para pesepeda, juga tanpa “sweeper” yang mengecek apakah ada peserta yang ketinggalan.

Bisa dibayangkan betapa kesalnya para pengguna jalan lain jika melihat kearoganan ini. Bukankah jalan raya itu milik bersama? Para pengendara kendaraan bermotor, pesepeda, juga pejalan kaki? Alih-alih menarik orang untuk beralih naik sepeda dan meninggalkan kendaraan bermotor mereka, justru gerakan “rebut ruang kota” ini akan membuat orang tak simpatik dengan para pesepeda. Akibatnya mereka akan tetap berkendaraan bermotor, tetap membutuhkan bahan bakar yang bakal habis satu saat nanti, dan terus menyebabkan polusi udara.

Sekitar dua tahun kemudian, “Semarang Critical Mass Ride” tak lagi ada pengikutnya. Entah mengapa.

JALUR SEPEDA DI PURWOKERTO

Bulan Maret 2013 aku dan Ranz berkesempatan gowes di kota Purwokerto, dalam rangkaian bikepacking Solo – Purwokerto. Kita sangat terkesan dengan jalur sepeda yang ada disana. Di salah satu jalan utamanya, Jalan Jendral Sudirman, kita dapati jalur sepeda hanya di satu sisi. Di jalan yang sama, di jalur yang berlawanan arah, di sisi paling pinggir kiri digunakan untuk parkir kendaraan bermotor. Maka, tak ada kendaraan bermotor yang menghalangi pesepeda menggunakan jalur yang disediakan buat mereka. Di beberapa tempat, kita menemukan poster yang bertuliskan “keselamatan jalan tanggung jawab kita semua; beri kesempatan pesepeda menggunakan lajurnya.”

beri kesempatan pesepeda menggunakan lajurnya

Ini adalah ide yang bagus untuk diterapkan di kota Semarang, mungkin juga di kota-kota lain. Jalur sepeda tetap ada dan dimanfaatkan oleh para pesepeda; lahan parkir di satu jalan pun tetap ada sehingga tidak mematikan ladang rezeki para tukang parkir. Para pengendara kendaraan bermotor pun tidak perlu bingung mencari tempat parkir.

PENUTUP

Undang-undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 2009 pasal 106 ayat 2 menjelaskan bahwa “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor wajib mengutamakan pejalan kaki dan pesepeda.” Ayat ini jelas mengatakan bahwa jalan raya itu milik semua yang menggunakannya, para pengendara kendaraan bermotor, pesepeda, juga pejalan kaki.

Dalam prakteknya, meski UU ini disahkan empat tahun lalu, ayat tersebut kurang dikenal masyarakat dengan bukti masih banyak ditemukan arogansi para pengendara kendaraan bermotor kepada para pesepeda, juga pejalan kaki. Sebagai seorang praktisi bike-to-work maupun pehobi bikepacking, terlalu banyak pengalaman tersingkirkan di jalanan, demi keselamatan diri dikarenakan hanya dipandang sebelah mata oleh pengguna jalan lain. Namun, tetap, semua orang berhak menggunakan jalan raya bersama-sama, dan saling menghormati pengguna jalan lain.

Nana Podungge
seorang bike-to-worker dan bikepacker


PT56 19.00 070713

Kamis, Agustus 16, 2012

Female Genital Mutilation

Apa itu Female Genital Mutilation

Terdapat beberapa definisi mengenai Female Genital Mutilation (FGM):

1. Berdasarkan WHO information fact sheet No.241 June 2000, FGM merupakan semua prosedur termasuk pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari organ genital perempuan atau tindakan melukai lainnya terhadap organ genital perempuan baik untuk alasan budaya, agama, atau alasan lainnya yang tidak berkaitan dengan penyembuhan

2. Berdasarkan fact sheet no.23, Harmful Traditional Practices Affecting the Health of Women and Children yang dikeluarkan oleh Office of the High Commissioner for Human Rights, FGM adalah istilah yang dipakai mengacu pada tindakan pembedahan untuk mengangkat sebagian atau seluruh bagian organ genital perempuan yang paling sensitif.

3 Berdasarkan Stedman's medical Dictionary, 26th Edition, 1995 mutilasi didefinisikan sebagai perusakan atau tindakan melukai dengan mengangkat atau merusakkan bagian-bagian yang nyata terlihat atau bagian penting dari tubuh

Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa FGM adalah segala prosedur atau tindakan yang ditujukan untuk menghilangkan dan melukai sebagian atau seluruh organ genital dari perempuan.

Asal Mula Female Genital Mutilation

Menurut pendapat beberapa ahli, pada awalnya FGM berasal dari Mesir. Tujuan dilakukannya FGM ini adalah sebagai perayaan saat seorang perempuan mencapai kedewasaan. Praktik ini merupakan akulturasi budaya antara penduduk Romawi yang waktu itu banyak tinggal di Mesir.

Dahulunya masyarakat Romawi mempraktikkan FGM ini pada perempuan kalangan budak untuk meningkatkan daya jual mereka di pasar. Masyarakat Mesir kemudian mengadopsi kebudayaan ini dengan tujuan membuat perempuan-perempuan Mesir lebih diminati sekaligus untuk menjaga keperawanan. Selanjutnya FGM berkembang menjadi tradisi religi dan mulai dipraktikkan oleh kelompok agama dan seiring dengan berjalannya waktu, tradisi ini menjadi populer dan agama bukanlah satu-satunya alasan FGM dilakukan.

Tipe-Tipe Female Genital Mutilation

Ada empat macam tipe FGM menurut fact sheet no.23, Harmful Traditional Practices Affecting the Health of Women and Children:

1. Tipe I : Sirkumsisi (Circumcision)
Menghilangkan bagian permukaan, dengan atau tanpa diikuti pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari klitoris. Ketika prosedur ini dilakukan terhadap bayi perempuan atau anak kecil perempuan, bisa jadi bagian atau keseluruhan dari klitoris dan sekeliling jaringan (tissues) akan terbuang.

2. Tipe II : Eksisi (Excission)
Pengangkatan klitoris diikuti dengan pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari labia minora.

3. Tipe III : Infabulasi (Infibulation)
Merupakan excission yang diikuti dengan pengangkatan labia mayora serta menempelkan kedua sisi vagina dengan jalan menjahit atau menyatukan secara alami jaringan yang terluka dengan mempergunakan media berupa duri, sutera, atau benang dari usus kucing. Pada infabulation akan ditinggalkan lubang yang sangat kecil (kurang lebih sebesar kepala korek api) yang dipergunakan untuk sekresi dan keluarnya cairan menstruasi.

4. Tipe IV : Introsisi (Introcission)
Jenis FGM yang dipraktikkan oleh suku Pitta-Pitta Aborigin di Australia, dimana pada saat seorang perempuan mencapai usia puber, maka seluruh suku akan dikumpulkan dan seseorang yang dituakan dalam masyarakat akan bertindak sebagai pemimpin prosedur FGM. Lubang vagina perempuan tersebut akan diperlebar dengan jalan merobek dengan menggunakan tiga jari tangan yang diikat dengan tali dan sisi lain dari perineum yang akan dipotong dengan menggunakan pisau batu. Ritual ini biasanya akan diikuti dengan aktivitas seksual secara paksa dengan beberapa lelaki muda. Selain di Australia, introcission juga dipraktikkan di Meksiko Timur, Brazil, Peru, dan suku Conibos. Serta sebagian dari suku Pano Indian di bagian tenggara. Pada suku-suku tersebut operasi dilaksanakan oleh seorang perempuan yang dituakan dengan menggunakan pisau bambu, perempuan ini akan memotong jaringan sekitar selaput dara serta mengangkat bagian labia pada saat yang bersamaan membuka klitoris, tumbuhan obat akan dipergunakan untuk menyembuhkan diikuti dengan memasukkan objek berbentuk penis yang terbuat dari tanah liat.

Prosedur dan Usia Dilakukannya Female Genital Mutilation

Tidak ada prosedur standar dalam melakukan FGM, karena prosedur yang dipraktikkan oleh masyarakat dunia sangatlah bervariasi tergantung pada daerah, kebiasaan masyarakat serta adat-istiadat dimana perempuan tersebut tinggal. Sebagai contoh prosedur introcission yang dipraktekkan oleh suku Pitta-Patta Aborigin di Australia sangatlah berbeda dengan prosedur introcission yang dipraktekkan di Meksiko. Menurut Amnesti Internasional terdapat prosedur secara umum mengenai proses dilakukannya FGM yaitu:

1. Seorang perempuan yang akan melakukan FGM akan disuruh duduk di dalam air dingin untuk mematikan rasa di daerah yang akan dipotong serta mengurangi kemungkinan pendarahan. Pada umumnya perempuan tersebut tidak akan diberikan penghilang rasa sakit, perempuan tersebut akan dibuat tidak bergarak dengan cara dipegangi oleh perempuan-perempuan yang lebih tua, kaki perempuan tersebut akan
dibuka dengan lebar sehingga bagian vagina akan terekspos.

2. Mutilasi akan dilakukan dengan mempergunakan alat pemotong seperti pecahan kaca, besi tipis, gunting, silet atau benda-benda tajam lainnya. Bila tipe FGM yang dilakukan adalah infabulasi maka duri atau jahitan yang akan dipergunakan untuk menahan serta merapatkan kedua sisi dari labia mayora dan labia minora yang telah dipotong dengan terlebih dahulu menyelipkan bambu atau kayu untuk menciptakan lubang pada daerah yang dirapatkan.

3. Selanjutnya perempuan tersebut akan diikat kakinya dan dibiarkan tergantung selama kurang lebih 40 hari, untuk menyembuhkan luka penggunaan bubuk antiseptik dimungkinkan, tetapi biasanya dipergunakan salep yang mengandung campuran tumbuh-tumbuhan obat, susu, telur, abu atau kotoran yang dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan.

Bagi perempuan yang diinfabulasi tidak akan memiliki besar lubang vagina yang normal, lubang vagina ini menjadi sangat kecil kira-kira hanya sebesar kepala korek api dan tidak mungkin melakukan aktifitas seksual. Hal ini dimungkinkan karena tujuan utama dari dilakukannya infabulasi adalah menjaga keperawanan perempuan yang belum menikah.

Bila perempuan yang diinfabulasi hendak melakukan aktivitas seksual, maka ia harus dibuka kembali (defibulasi), dan nantinya dibuka lebih lebar lagi untuk kepentingan persalinan. Pada banyak kebudayaan, defibulasi ini akan dilakukan oleh seorang suami setelah mengetahui bahwa pengantinnya masih perawan. Proses defabulasi ini dilakukan dengan mempergunakan alat-alat tajam ataupun kuku dari sang suami sendiri. Defulasi oleh bidan hanya dilakukan bila sang suami mengijinkan. Proses ini dilakukan berulang-ulang sehingga perempuan juga akan merasakan kesakitan dan penderitaan yang berulang-ulang apalagi nantinya akan sangat berisiko terkena penyakit.

Mengenai tempat, pelaksanaan FGM ini biasanya dilakukan di rumah pribadi, tetangga, kerabat, pusat kesehatan, atau bila FGM dianggap sebagai proses inisiasi maka akan dipilih sungai atau pohon tertentu.

Prosedur FGM ini sangatlah menyakitkan, baik pada saat prosedur dilaksanakan maupun pada masa setelah prosedur selesai. Tetapi anehnya sebagian besar pelaku FGM adalah perempuan sendiri dan hanya sedikit kebudayaan yang memungkinkan prosedur ini dilakukan pria. Seperti halnya prosedur usia dilakukannya FGM juga bervariasi namun pada umumnya FGM biasa dipraktekkan pada perempuan yang berumur 4 sampai 10 tahun, walaupun di beberapa komunitas tertentu FGM ini dipraktekkan pada masa bayi atau ditunda sampai seorang perempuan akan menikah. Pada beberapa tempat terutama di pedesaan, orang yang melakukan pemutilasian ini yaitu dukun mutilasi atau bidan akan mendapat upah walaupun proses pelaksanaannya tanpa obat bius. Dalam proses FGM biasanya digunakan beberapa alat seperti pisau, pecahan gelas, pisau cukur, atau gunting. Namun, di negara-negara yang sudah berkembang FGM dilakukan secara higienis dengan menggunakan obat bius.

Alasan-Alasan dipraktikkannya Female Genital Mutilation

Ada beberapa alasan dilakukannya FGM yang dikelompokkan ke dalam empat alasan utama, yaitu:

1. Identitas budaya
Budaya dan tradisi merupakan alasan utama dilakukannya FGM, karena FGM menentukan siapa sajakah yang dapat dianggap sebagai bagian dari masyarakat, sehingga dianggap sebagai tahap inisiasi bagi seorang perempuan untuk memasuki tahap kedewasaan. Dalam masyarakat yang mempraktikan hal ini, FGM dianggap sebagai hal yang biasa dan seorang perempuan tidak akan dianggap dewasa sebelum melakukan FGM.

2. Identitas gender
FGM dianggap penting bagi seorang gadis bila ingin menjadi perempuan seutuhnya, praktik ini memberikan suatu perbedaan jenis kelamin dikaitkan dengan peran mereka di masa depan dalam kehidupan perkawinan. Pengangkatan bagian klitoris dianggap sebagai penghilangan organ di tubuh perempuan sehingga feminitas perempuan akan utuh dan sempurna, karena trauma yang didapatkan setelah proses ini berlangsung akan memengaruhi perempuan. FGM juga dianggap sebagai pemberian pelajaran kepada perempuan mengenai perannya dalam masyarakat.

3. Mengontrol seksualitas perempuan serta fungsi reproduksinya
FGM dipercaya dapat mengurangi hasrat seksual perempuan akan seks, sehingga dapat mengurangi terjadinya praktik seks di luar nikah. Kesetiaan seorang perempuan yang tidak dimutilasi terhadap pasangannya akan sangat diragukan oleh masyarakat. Dalam masyarakat yang mempraktikkan FGM, seorang perempuan yang tidak dimutilasi tidak akan mungkin mendapatkan jodoh.

4. Alasan kebersihan, kesehatan, dan keindahan
Alasan ini merupakan alasan pembenaran yang dipakai oleh banyak masyarakat di dunia untuk melakukan FGM. Mutilasi yang sering dikaitkan dengan tindakan penyucian atau pembersihan dalam masyarakat yang mempraktikan FGM. Seorang perempuan yang tidak dimutilasi dianggap tidak bersih dan tidak akan diperkenankan menyentuh makanan
atau air.

FGM sering sekali dipromosikan dapat meningkatkan kesehatan perempuan serta anak yang dilahirkannya, dikatakan bahwa perempuan yang melakukan FGM akan lebih subur serta mudah melahirkan. Pendapat ini lebih merupakan mitos yang dipercaya masyarakat saja dan tidak memiliki bukti medis. Dari penjelasan mengenai prosedur serta dampak FGM dapat dilihat bahwa FGM ini dapat membahayakan jiwa, kesehatan, dan kesuburan seorang perempuan.

Dampak Praktik Female Genital Mutilation

Dampak dilakukannya FGM adalah sebagai berikut:

1. Konsekuensi Medis
Perempuan yang menjalankan prosedur FGM sangat berisiko besar mengalami berbagai masalah serius baik fisik maupun psikis. Masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan berkaitan dengan tingkat higienitas alat yang dipakai dalam prosedur, keahlian orang-orang yang melaksanakan prosedur tersebut, serta tahapan-tahapan prosedur FGM itu sendiri.

Dampak fisik yang ditimbulkan oleh FGM terbagi menjadi dampak jangka pendek.dan jangka panjang Dampak jangka pendek dari FGM meliputi pembengkakan pada jaringan sekitar vagina yang akan menghalangi proses pembuangan cairan, infeksi yang disebabkan pemakainan alat yang tidak steril, serta kontaminasi luka karena air seni, pendarahan parah dan shock, pembuluh darah dari klitoris dapat mengalami pendarahan,

terjadinya infeksi, tercemarnya darah oleh racun dari alat yang tidak steril, dan kerusakan pada jaringan di sekitar klitoris serta labia yang setelah beberapa waktu akan menyebabkan tersumbatnya urine yang berimplikasi pada infeksi serius.

Dampak jangka panjang yang ditimbulkan FGM yaitu infeksi saluran kencing. Hal ini disebabkan karena terdapatnya penyakit yang timbul karena adanya bakteri serta sisa-sisa sel darah putih dan juga karena infeksi yang berulang-ulang pada saluran reproduksi. Lubang vagina yang menjadi sempit akan menyebabkan terganggunya saluran menstruasi sehingga perempuan akan merasa sangat kesakitan karena penumpukan residu pada vagina. Dampak lain yang ditimbulkan adalah infeksi pelvic yang menyebabkan tersumbatnya tuba fallopi yang nantinya akan berakibat pada kemandulan.

Pada tipe infabulasi dampak jangka panjang yang ditimbulkan akan menjadi lebih serius yaitu infeksi pada saluran kencing dan ureter, kerusakan pada ginjal, infeksi saluran reproduksi yang disebabkan terganggunya siklus menstruasi, infeksi parah pada pelvic sehingga menyumbat tuba fallopi, perluasan jaringan yang terluka, keloid, sakit yang diderita pada saat berhubungan (making love), dan kesulitan pada saat melahirkan akibat hilangnya elastisitas serta saluran pelicin pada vagina. Perempuan yang diinfabulasi akan membutuhkan 15 menit untuk kencing dan periode menstruasi mencapai 10 hari, kadang-kadang karena sempitnya lubang ini darah menstruasi akan berkumpul di perut. Sehubungan dengan penularan penyakit berbahaya, FGM juga merupakan sarana yang berbahaya dan riskan bagi penularan virus HIV dan hepatitis, diakibatkan pemakaian alat yang tidak steril.

2. Konsekuensi Seksual

Secara seksual FGM berdampak pada rusaknya ransangan seksual pada perempuan. Hal ini disebabkan karena klitoris yang sudah dihilangkan akibat praktik FGM. Klitoris merupakan organ seksual utama pada perempuan yang memiliki banyak sekali syaraf yang sangat peka terhadap sentuhan, sedangkan bagian lain dari vagina hanya memiliki respon yang minim terhadap sentuhan. Dengan dihilangkannya klitoris pada FGM, maka secara otomatis ransangan seksual pada perempuan akan menurun secara drastis sehingga akan butuh waktu yang sangat lama bagi perempuan dalam berhubungan seks untuk mencapai orgasme bahkan tidak mampu sama sekali dalam mencapai orgasme.

Hal ini tidak hanya berdampak pada perempuan saja. Secara tidak langsung laki-laki juga terkena dampaknya. Sebagai contoh di Mesir dimana terjadi peningkatan laki-laki yang menggunakan narkotika akibat dari hanya sedikit sekali laki-laki sehat yang dapat membuat seorang perempuan yang dimutilasi klitorisnya mencapai orgasme.

1. Pengakuan dari seorang laki-laki Sudan tentang pengalaman seksualnya pada malam pertama perkawinannya.

"the first experience were very painful for her. For a long time we could not enjoy sex together, because it was a uniteral thing. It was I who had the orgasm. She only had fear and pain. I had had some experience, and knew either I would ruin the whole relationship, or with gentleness and patience I would eventually solve the problem. I love her very much, and for a long time, for several months, we both tried very hard to make it work. It was a nightmare. Of course I wanted sex. Everytime I approach her sexually, she bled. The wound I had caused was never able to heal. I felt horribly guilty. The whole thing was so abnormal. The thought that I was hurting someone I loved so dearly trouble me greatly. I felt like an animal. This is an experience that I would rather not remember."


2. Pengalaman Amina, seorang perempuan berusia 25 tahun dari Somali.

"I was infabulated when i was nine years old. I have had four operations to open up the infibulation for sexual relations with my husband since I got married four years ago but all this has been unsuccessful. Each time my husband comes near me the place close up. He cannot enter me. I have been through a lot of pain even to the point that I wanted to commit suicide. My husband unfortunately emotionally abuses me. He says I am a useless woman. It hurt me so much. I cannot speak to my family or to any member of the community. This will bring shame on my family. I need to see a psychologist, there will be gossip in the community and I will be dismissed as a mad person.


Dari kedua konsekuensi yang ditimbulkan oleh FGM, maka akan menimbulkan dampak yang ketiga yaitu konsekuensi psikologis yang akan diderita oleh perempuan yang melakukan FGM.

3. Konsekuensi Psikologis

Selain dampak fisik, FGM juga menimbulkan dampak psikis terhadap perempuan yang melakukan FGM. Dampak psikisnya yaitu perasaan cemas, takut, malu, serta perasaan dikhianati yang dapat menimbulkan dampak negatif jangka panjang pada kondisi psikis perempuan.

Berdasarkan penelitian beberapa ahli, shock dan trauma yang diderita dapat menyebabkan terbentuknya sifat pendiam dan penurut pada perempuan. Sifat-sifat ini dianggap baik bagi masyarakat yang mempraktikkan FGM. Walaupun di saat perayaan perempuan yang melakukan FGM akan mendapat hadiah akan menghilangkan sedikit trauma, namun dampak psikologis yang paling penting adalah perasaan merasa diterima sebagai bagian dari anggota masyarakat serta perasaan telah memenuhi persyaratan untuk
menikah.

Berikut pernyataan Dr. Nahid Toubia, seorang gynaecology yang telah melakukan penelitian terhadap hal ini terhadap pasiennya di sebuah klinik di Sudan:

"Thousand of women present themselves with vague complaints all metaphorically linked to their pelvises, which really means their genital since they are socially too shy to speak of their genitals. They complain of symptoms of anxiety and depression, loss of sleep, backache and many other complaints uttered in sad monotonous voices.

When I probe them a little, the flood of their pain and anxiety over their genitals, their sexual lives, their fertility and all the other physical and psychological complications of their circumcision is unbearable. These women are holding back a silent sream so strong, if uttered, it would shake the earth. Instead it is held back depleting their energy and darining their confidence in their abilities. Meanwhile the medical establishment treats them as malingerers and a burden on the health system and its resources.

*from many sources

050311
Ada kesalahan di dalam gadget ini