Kamis, Maret 15, 2018

Perempuan Gila : Tema dalam Karya Sastra

the pic was taken from this link


PEREMPUAN GILA: TEMA DALAM KARYA SASTRA
YANG TAK LEKANG OLEH ZAMAN

Pengantar

Bahwa kesusastraan memiliki nilai global diamini oleh para kritikus sastra. Pandangan bahwa kesusastraan memiliki tema-tema yang ‘everlasting’ dan cenderung berulang di abad-abad selanjutnya membenarkan apa yang dikatakan oleh Virginia Woolf “Books continue each other”. Tidak penting apakah karya sastra tersebut dihasilkan di belahan bumi Barat maupun Timur, di abad terdahulu maupun abad terkini.

Tulisan ini akan membandingkan dua cerita pendek yang dihasilkan oleh dua penulis perempuan yang hidup di belahan bumi yang berbeda dan abad yang berbeda pula. Cerita pendek yang pertama berjudul “The Yellow Wallpaper” ditulis oleh Charlotte Perkins Gilman, seorang pejuang kesetaraan jender pada zamannya, di tahun 1892 Amerika. Cerita pendek yang kedua berjudul “Jaring Laba-Laba” ditulis oleh Ratna Indraswari Ibrahim, seorang cerpenis yang produktif. “Jaring Laba-Laba” termasuk dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2004.

Sekilas tentang “The Yellow Wallpaper” dan “Jaring Laba-Laba” dan pengarangnya 

Banyak kritikus mengatakan bahwa “The Yellow Wallpaper” ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Charlotte Perkins Gilman. Gilman menulis cerpen ini sekitar tahun 1890-1892, pada masa-masa paling sulit dalam hidupnya setelah mengalami serangkaian ‘nervous breakdown’ dan akhirnya demi menyembuhkan diri sendiri, Gilman mengambil jalan yang dianggap sangat kontroversial pada abad tersebut: berpisah dengan suaminya, bepergian ke seluruh penjuru Amerika untuk memberikan ceramah tentang kesetaraan jender dan pentingnya kemandirian finansial bagi kaum perempuan, serta menulis. 

“The Yellow Wallpaper” merupakan salah satu media yang ingin dia sampaikan ke publik bahwa bagi perempuan seperti dia, kebebasan berkreasi—misal dalam hal menulis—dan mengungkapkan stimulasi intelektual jauh lebih penting daripada mengerjakan tugas-tugas domestik sebagai seorang ‘ibu rumah tangga’ yang konvensional. Menulis merupakan proses penyembuhan penyakit psikologis yang diderita oleh seorang perempuan karena menulis adalah ‘a healing process of catharsis’.

Ratna Indraswari Ibrahim seorang cerpenis yang berdomisili di Malang. Dia telah menghasilkan ratusan cerpen yang dicetak di banyak media, seperti surat kabar dan majalah, dimana banyak dari cerpen tersebut kemudian dipublikasikan kembali dalam bentuk kumpulan cerpen. Banyak cerpen yang dia tulis bercerita tentang pengalaman perempuan dan banyak pula yang ditulis menggunakan sudut pandang feminis. 

“Jaring Laba-Laba” berkisah tentang seorang perempuan yang akhirnya terjerumus ke rumah sakit jiwa setelah perjalanan hidupnya menggiringnya menjadi seorang ibu rumah tangga yang melulu hanya mengabdikan hidup untuk suami dan anaknya, tanpa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi intelektualitasnya yang cukup tinggi. 

Kedua cerpen ini memiliki ending yang kontradiktif, dalam “The Yellow Wallpaper” sang narator tak bernama ini berhasil melepaskan dirinya dari penjara wallpaper dengan mencabik-cabiknya, sedangkan Dina, tokoh perempuan dalam “Jaring Laba-Laba” membiarkan dirinya terperangkap dalam jaring laba-laba. Wallpaper dan jaring laba-laba ini merupakan analogi kultur patriarki dimana kedua tokoh perempuan ini hidup.

the pic was taken from here

Tema “Woman Madness” dalam “The Yellow Wallpaper”

“Madness” alias kegilaan merupakan tema yang selalu diulang-ulang ditulis dalam karya sastra sejak penulisan drama tragedi zaman Yunani Kuno. Namun pada abad kesembilan belas dan duapuluh, tema ini lebih difokuskan pada kehidupan kaum perempuan. Perempuan gila yang digambarkan dalam novel Jane Eyre karangan Charlotte Bronte, Mrs Dalloway karangan Virginia Woolf dan The Bell karangan Sylvia Plath memiliki karakter yang sama: sesosok figur yang penuh kemarahan yang tidak memiliki kemampuan untuk menekan penderitaannya dan mengungkapkannya dalam suatu hal yang bisa dipahami oleh masyarakat. 

Menyikapi tema ini, Phyllis Chesler dalam bukunya Women and Madness menyatakan bahwa “because the mental health system is patriarchal, women are often falsely labelled as being "mad" if they do not conform to stereotypical feminine roles”. Perempuan sering dianggap gila tatkala mereka tidak mengikuti konsensus kultur patriarki tentang perempuan “sejati” sistem kesehatan mental itu sendiri bersifat patriarki. Kacamata patriarki merupakan satu-satunya yang dipakai dalam memandang kesehatan mental perempuan. 

Tema utama dalam buku Phyllis Chesler ini sangat tepat dipakai untuk membidik apa yang terjadi kepada sang narator tanpa nama dalam “The Yellow Wallpaper” maupun Dina, tokoh perempuan dalam “Jaring Laba-Laba”. Sang narator tanpa nama ‘diistirahatkan’ dalam sebuah rumah yang terletak jauh dari masyarakat oleh suaminya yang dokter tatkala dia ‘gagal ‘ melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu dari anak yang baru saja dia lahirkan. 
Perempuan tanpa nama ini dikisahkan sebagai seorang perempuan yang lebih memilih menulis untuk mengungkapkan sisi intelektualnya. Hal ini dipandang sangat tidak lazim pada abad tersebut sehingga bisa dipahami jika dia pun dianggap gila oleh suami dan keluarganya yang lain. Untuk ‘menyembuhkan’nya, dia pun ‘dipenjara’ dalam rumah peristirahatan dimana dia tidak diperbolehkan bertemu dengan siapa pun kecuali suami dan saudara perempuannya yang bertugas mengasuh bayinya serta mengawasi sang narator tanpa nama agar dia tidak lagi melakukan kegiatan yang konon membuatnya kehilangan akal sehatnya: menulis. 

Charlotte Perkins Gilman sengaja tidak memberi nama tokoh utama dalam cerpen ini untuk mengungkapkan betapa tidak pentingnya tokoh satu ini sehingga dia tidak layak memiliki nama; tidak layak memilik sebuah identitas pribadi selain sebagai ‘istri si fulan’ atau pun ‘ibu si fulan’. 

“The cult of true womanhood” saat itu masih sangat kental melingkupi kultur patriarki Amerika. Perempuan sejati haruslah mengikuti empat prinsip utama: piety (kerelijiusan), purity(kesucian), submission (kepatuhan), dan domesticity (domestikasi). Sang narator tanpa nama jelaslah telah melanggar empat prinsip utama ini. Dia dianggap tidak relijius karena tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya, seorang laki-laki (maskulin) yang pada tingkat tertentu dianggap memiliki kuasa di hadapan istrinya (feminin), seperti Jesus (maskulin) atas umat-Nya (feminin). Hal ini berkaitan erat dengan prinsip ketiga, yakni submission, dia tidak mematuhi apa yang dikatakan oleh suaminya: lebih memilih menulis padahal sang suami telah melarangnya melakukan kegiatan yang berhubungan dengan intelektualitas. Sang narator tanpa nama juga telah melanggar prinsip kedua, purity. Dia membiarkan otaknya tidak pure alias suci karena memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dia pikirkan. 

Prinsip keempat—domesticity—merupakan satu hal yang terlihat dengan mata telanjang, titik kulminasi prinsip perempuan sejati yang telah dia langgar: dia lebih memilih menulis daripada melakukan tugas-tugas domestik kerumahtanggaan: mengurus rumah, suami, dan anak. ‘Dosa besar’ yang dia ungkapkan dalam kegiatan menulisnya adalah dia ingin membagi keresahan hatinya dengan para perempuan lain, ‘meracuni’ perempuan lain untuk setuju dengan cara berpikirnya: mengejar sisi intelektualnya dengan menulis lebih ‘fulfilling’ ketimbang melakukan pekerjaan rumah tangga. 

Tema “Woman Madness” dalam “Jaring Laba-Laba”

Cerpen “Jaring Laba-Laba” menggambarkan perjalanan psikologis Dina dari seorang perempuan yang di awal cerita merupakan seorang perempuan yang mengejar kepuasan intelektual untuk mengisi hidupnya (dengan kuliah S2 di mancanegara), dan setelah menikah terpaksa meninggalkan sisi intelektualnya demi melakukan pekerjaan rumah tangga, sebagai istri dan ibu. 

Konstruksi kultur patriarki disuarakan oleh ibu sejak Dina masih kecil—dia harus menjaga kamarnya bersih dari sarang laba-laba karena dia perempuan, sedangkan kakaknya yang laki-laki boleh saja jika memiliki kamar yang kotor karena dia laki-laki. Konstruksi ini diteruskan oleh Bram, suaminya, setelah mereka kembali ke Indonesia. Mengacu ke penggambaran tokoh perempuan gila yang di abad kesembilan belas dan dua puluh sebagai perempuan histeris yang penuh kemarahan dan kesedihan dan tak mampu menemukan cara untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan dalam hati untuk dipahami oleh masyarakat (dalam hal ini oleh Bram, anaknya, beserta tokoh ibu), akhirnya Dina pun ‘dipenjarakan’ di rumah sakit jiwa.

“The cult of true womanhood” yang sangat dominan mempengaruhi kultur patriarki Amerika pada abad sembilan belas sampai awal abad dua puluh masih terlihat jelas pada cerpen “Jaring Laba-Laba” yang ditulis di awal abad dua puluh satu Indonesia. Tokoh Dina tunduk (submission)) pada apa yang dikatakan oleh ibu dan suaminya untuk menjadi makhluk domestik (domesticity), namun dia sendiri merasa terpenjara di dalamnya. Karena patriarki merupakan satu-satunya kultur yang dianggap benar, Dina pun tak kuasa untuk menyuarakan kata hatinya. 

Tokoh Bram setali tiga uang dengan John, suami sang narator tanpa nama dalam “The Yellow Wallpaper” yang merasa dirinya telah menjadi suami yang baik. “Saya tidak tahu mengapa kau depresi? Apakah saya suami yang tidak baik? Saya tidak berselingkuh dengan siapa pun, sebisa-bisanya, saya ingin menjadi suami dan bapak yang baik.” Jika Bram memasukkan Dina ke rumah sakit jiwa, John mengisolasi istrinya di dalam sebuah rumah peristirahatan yang jauh dari mana pun. 

Seperti yang ditulis pada bagian awal, ending cerita kedua cerpen ini agak kontradiktif. Dalam “The Yellow Wallpaper” sang narator dikisahkan ‘berhasil’ keluar dari wallpaper yang memenjarakannya. Para kritikus sastra memandang hal ini dari dua kacamata yang berbeda, sebagian berpendapat bahwa akhirnya sang narator benar-benar menjadi gila karena dia dikisahkan merangkak di seluruh penjuru kamarnya dimana wallpapernya telah berhasil dia cabik-cabik. Dia kunci pintu kamarnya dan membuang kuncinya sehingga John tidak berhasil masuk kamar untuk melihat apa yang terjadi kepada istrinya. Sebagian kritikus lain berpendapat bahwa akhirnya sang narator berhasil melepaskan diri dari kungkungan kultur patriarki yang disimbolkan oleh ‘wallpaper’ karena sang perempuan yang dilihat oleh sang narator berada di balik wallpaper telah berhasil keluar setelah wallpaper tersebut dicabik-cabik. 
Di akhir cerita “Jaring Laba-Laba” dikisahkan Bram dan anaknya menjemput Dina dari rumah sakit karena dokter menyatakan dia telah sembuh dan bisa kembali ke keluarganya. Pernyataan ‘sembuh’ dari dokter justru membuat Dina khawatir karena dia tak lagi bisa melihat jaring laba-laba yang disebabkan oleh rasa ‘cinta’ suami dan anaknya dalam bentuk pemaksaan mengerjakan tugas domestik rumah tangga. Oleh karena itu, tatkala dilihatnya Bram dan anaknya datang menjemputnya, Dina lebih memilih berlari menjauh. Hal ini bisa diintepretasikan bahwa Dina dengan sadar lebih memilih untuk tidak tunduk pada konstruksi kultur patriarki. Kembali ke rumah untuk menjadi istri dan ibu yang baik menurut kacamata patriarki akan membuat Dina kehilangan akal sehatnya lagi. 

Kesimpulan

Kemiripan kisah dua cerpen ini membuat keduanya bisa dianggap sebagai karya sastra yang memiliki tema yang universal: woman madness alias perempuan gila. Perbedaan abad saat penulisan kedua cerpen tersebut menunjukkan bahwa bahkan di abad kedua puluh satu ini, dengan paham feminisme alias kesetaraan jender yang telah meluas ke seluruh penjuru dunia selama beberapa dekade ternyata tidak menunjukkan banyak perubahan pada sisi kehidupan perempuan. Masih ada kalangan masyarakat yang kultur patriarkinya sangat kental dan perempuan pun menjadi korban yang tidak akan pernah bisa dipahami. 

PT56 10.25 220909

Sabtu, September 17, 2016

Independent Learner

“independent learner”

Seorang guru tentu tidak ingin membuat siswanya selalu tergantung kepadanya. Seorang guru seharusnya mampu membuat seorang siswa menghadapi permasalahannya sendiri, satu saat nanti. Jika berada di kelas, apalagi di awal pembelajaran satu ‘subject’, tentu peran seorang guru sangat dibutuhkan. Namun, setelah beberapa saat, sangat tidak bijaksana jika kemudian siswa itu terus menerus tergantung kepada gurunya. Dia harus mampu mandiri.

gambar diambil dari sini

Berpijak dari itulah maka aku mulai membiasakan para siswaku untuk tidak selalu bergantung padaku, terutama untuk sekedar tahu arti kata satu kata alias vocabulary (baru). Beberapa tahun yang lalu, ketika smart phones belum memasyarakat, aku biasa membawa dua tiga kamus ke dalam kelas, sehingga ketika ada siswa yang ingin bertanya arti satu kata, aku hanya menyodorkan kamus (English – English dictionary) kepadanya, dan memintanya untuk mencari tahu sendiri arti kata tersebut.

gambar dicopas dari sini

English – English dictionary (kamus Bahasa Inggris yang artinya juga ditulis dalam Bahasa Inggris) juga berguna untuk mengajari siswa untuk tahu bagaimana mengucapkan (to pronounce) satu kata dengan benar, jadi tidak hanya untuk mencari tahu artinya.

Fungsi kamus (dalam bentuk buku) ini tergeser oleh kamus elektronik, misal kamus “al**link”. Lebih mudah mencari, tidak perlu ngubek-ngubek halaman, plus kamus “al**link” yang bagus juga disertai feature bagaimana cara  mengucapkan kata itu.

Era kamus elektronik pun akhirnya berlalu dengan adanya smart phones. Kemana pun kita berada, biasanya telpon pintar ini akan kita bawa. Aku pun membolehkan siswaku membawa hapenya ke dalam kelas, dan menggunakannya ketika pelajaran, terutama untuk memfungsikan hape ini sebagai kamus.

Maka, tak ada lagi label “kamus berjalan” disematkan kepadaku, karena fungsinya telah diambil alih oleh hape. Untuk ini, aku sangat berterima kasih pada pencipta smart phones. LOL.

Guru (Bahasa Inggris) juga manusia lho, tak melulu perlu difungsikan sebagai kamus berjalan. LOL.


IB 17.33 17/09/2016

Sabtu, Februari 13, 2016

LGBTQ

Beberapa minggu terakhir di sosial media -- utamanya facebook, mengingat aku 'aktif' hanya di satu sosmed ini -- telah terjadi perbincangan yang super hangat tentang topik satu ini: LGBTQ. Terakhir aku menulis di blog (yang sudah lama sekali :D) aku belum menambahkan huruf Q. Ternyata perkembangannya lumayan pesat, hingga para pemerhati -- selain mereka yang terlibat di dalamnya -- telah menambahkan huruf Q yang bisa dijabarkan sebagai "queer", namun ada juga yang membacanya sebagai "questioning". Kata "queer" mengacu ke "cross dressing" people, kalau di Indonesia kata ini diterjemahkan sebagai "waria". Sedangkan kata "questioning" lebih luas maknanya, mengacu ke seseorang yang belum memutuskan -- masih bertanya-tanya -- apa jenis kelamin plus orientasi seksualnya.

Jika di tulisan ini, aku mengutip para antropolog bahwa manusia dibagi menjadi empat kategori, di link ini, voilaaa ... ternyata kategorinya bisa banyak sekali :) Isn't it very INTERESTING?

As you can guess, orang-orang yang menuliskan opininya maupun hanya sekedar share link tentang hal-hal yang berkenaan dengan LGBTQ terbagi dalam beberapa kelompok, minimal 3 kelompok (1) setuju alias mendukung (2) kontra sekaligus mengutuk (3) tidak jelas. LOL. Yang kumasukkan dalam kelompok ketiga ini adalah mereka yang tidak mengutuk namun juga tidak mendukung. Lebih detilnya lagi, mereka tidak mendukung pernyataan bahwa ada sekian persen manusia yang terlahir di dunia dengan membawa gen tertentu yang akan "membawa" mereka menjelma LGBTQ, namun juga tidak mengutuk dengan alasan para LGBTQ itu harus dirangkul, dibimbing untuk "dikembalikan" ke the so-called 'kodrat': bahwa yang terlahir dengan alat kelamin penis berarti mereka laki-laki hingga WAJIB hanya tertarik kepada perempuan, dan sebaliknya, yang terlahir dengan memiliki alat kelamin vagina otomatis mereka adalah perempuan dengan konsekuensi WAJIB bahwa mereka hanya boleh dan bisa tertarik kepada laki-laki.


Perbincangan tentang LGBTQ ini kian menarik ketika seorang AA Gym ikut bersuara untuk memboikot LINE hanya karena LINE menyediakan stiker yang mendukung LGBTQ. Lucunya, konon, dia menyuarakan pemboikotan ini lewat akun facebooknya, padahal jelas-jelas Mark Zuckerberg adalah pendukung LGBTQ. Mengapa dia tidak memboikot facebook sekalian? :) Dan orang-orang yang masuk dalam friendlist-ku di facebook ada yang memamerkan momen ketika mereka uninstall LINE dari hape mereka gegara adanya stiker yang mendukung LGBTQ.

Manusia memang lucu :) Atau mereka naif dan tidak mau tahu mereka telah memamerkan ketidaktahuan mereka? :D

IB180 16.48 13/02/2016

Pic was taken from this site :)

Jumat, Desember 18, 2015

Poligami versus Selingkuh



Sesungguhnyalah tidak ada beda dari praktik poligami dengan selingkuh. Keduanya mengacu ke kenyataan bahwa salah satu dari pasangan suami/istri telah melabuhkan hatinya pada orang lain, tak lagi menyetiai pasangan awal yang telah (mungkin) mereka pilih sendiri untuk mereka nikahi. Apa pun alasan yang mereka gunakan ketika melabuhkan hati ke dermaga lain ini.

Lalu bedanya apa dong?

Bedanya adalah jika praktik poligami 'dilindungi' (interpretasi kaum lelaki atas) Surat An-Nisa ayat 3, sehingga lelaki pun merasa berhak untuk melakukannya. Apalagi jika interpretasi "kamu boleh menikahi dua, tiga, perempuan yang kamu pilih" bersifat egoistis (plus konyol) yakni merupakan perintah Tuhan kepada kaum lelaki. Hal ini berarti menafikan lanjutan ayat tersebut yang berbunyi "Namun jika kamu takut tak bisa berbuat adil, maka nikahilah hanya satu perempuan saja." Plus ayat 129 dari surat yang sama yang bisa diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai, "... meskipun kamu ingin berbuat adil, kamu tidak akan bisa ..."


FYI, poligami disini maknanya poligini, yakni satu laki-laki dengan lebih dari 1 istri. Sedangkan poliandri tak diperkenankan, kecuali jika kata "perempuan" dalam ayat 3 itu bisa juga diterjemahkan sebagai "laki-laki" atau "suami". :-D

Bagaimana dengan selingkuh? Tentu saja tak satu ayat pun membolehkannya. Maka, terlihatlah secara jelas diskriminasi kepada kaum perempuan. Laki-laki (bahkan) dilindungi untuk berpindah ke lain hati, sedangkan perempuan tidak. Laki-laki (mungkin) akan mendapatkan pujian sebagai lelaki sejati, sedangkan perempuan akan dikategorikan sebagai 'bitch', perempuan binal, nakal, dan sejenisnya.

Inilah mengapa aku setuju pada pendapat Ayu Utami bahwa dia tidak mendukung poligami, karena jelas-jelas telah terjadi praktik kekerasan terhadap kaum perempuan, dan atas nama agama, pelakunya tidak diganjar hukuman (berupa masuk neraka, misalnya). Sebaliknya, Ayu Utami lebih pro ke selingkuh, karena itu berarti baik laki-laki maupun perempuan sama-sama melakukan kesalahan, tak satu pun dilindungi ayat alquran. Jika laki-laki harus kehilangan nama baiknya di masyarakat, perempuan pun sama. Jika laki-laki mendapatkan applause, perempuan pun juga. LOL. Equal. :-D

N.B.

Baca tulisanku tentang poligami disini.
Tulisanku tentang poligami dalam Bahasa Inggris bisa diakses disini.

IB180 12.35 19/12/2015

Pic diambil dari sini

Jumat, Agustus 15, 2014

Pilpres 2014

Seingatku tak pernah aku merasa begitu 'terlibat' dalam sebuah pemilihan umum, termasuk pemilihan presiden. Seperti kebanyakan orang, pilpres tahun ini memang demikian istimewa. Yes, you can guess, JOKOWI lah penyebab semua ini.

Aku termasuk orang yang apatis dalam kehidupan politik, sejak dulu. Jika dalam blognya Dee Lestari menulis bahkan sejak pertama kali dia ikut pemilu, dimana waktu itu hanya ada 3 kontestan, dan dia tahu cara curang Golkar memenangkan pemilu, dia telah menjadi golput semenjak usianya mencukupi untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu. Aku tidak. Aku adalah tipe warga negara yang penurut, (duluuuuu). Sudah tahu Golkar selalu curang, ya aku tetap ikut mencoblos, sejak pertama kali aku berhak ikut.

Aku menjadi golput di pemilu 2004, ketika melihat bahwa reformasi yang didengung-dengungkan sejak tumbangnya orde baru tahun 1998, tidak menunjukkan perkembangan apa-apa dalam kehidupan perpolitikan di Indonesia. (Nampaknya begitu.) Okelah yang menang tidak lagi Golkar -- pemilu tahun 1999 dimenangkan PDIP, tahun 2004 dimenangkan Partai Demokrat -- namun korupsi, kolusi, dan nepotisme tetap marak. Bahkan mungkin kian marak, jumlah kasus korupsi kian meningkat. Entah kian meningkat atau karena sekarang sudah zaman internet, segala hal kian transparan. Atau karena pemimpin Indonesia tidak sediktator presiden Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun ya? Hukum tetaplah menajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Aku menjadi golput lagi di tahun 2009. SBY terpilih lagi. Sialnya di periode kedua SBY segala hal justru memburuk. Kekerasan terhadap minoritas atas nama agama; kasus huk sum yang terkatung-katung; kian merajalelanya front-front yang menyalahgunakan nama agama. Capek banget rasanya membaca berita setiap hari.

JOKO WIDODO

Istilah satrio piningit mulai muncul setelah tumbangnya Orde Baru. Aku pun ikut berharap-harap cemas akan ada seorang satrio piningit yang ditunggu-tunggu. Sekian nama disebut, sekian orang diberi harapan besar. Sekian kekecewaan ternyata tetaplah menyertai.

Hal ini membuatku berpikir bahwa kekuasaan ternyata berdampak sangat buruk. Orang yang dulunya baik pun akan berubah menjadi tamak -- bisa jadi jahat -- jika memegang tampuk kekuasaan. Mungkin aku pun -- yang mengaku pada diri sendiri adalah orang baik -- akan berubah menjadi tamak jika berada di posisi yang sama.

Aku lupa kapan pertama kali aku mendengar nama JOKO WIDODO. Mungkin sekitar tahun 2010 ketika aku sedang menjadi salah satu 'jury' dalam satu event AFS (exchange students). Seorang calon siswa yang akan dikirim keluar negeri kebetulan berasal dari Solo. Ketika diminta berpidato tentang salah satu tokoh Indonesia yang menginspirasi, dia memilih walikota Solo yang lebih dikenal dengan nama Jokowi. That name absolutely didn't ring a bell at all to me. :)

Dan aku tetaplah apatis. Masak ada pejabat di Indonesia yang sama sekali tidak terlibat kasus korupsi, kolusi dan nepotisme? Barangkali belum ketahuan aja lah. :)

Tahun 2011 pertama kali aku berkunjung ke Solo dan menginap disana dua malam. Oh, kota ini berbeda ternyata. Aku terkesan dengan trotoarnya yang sangat friendly terhadap pejalan kaki, pesepeda, dan para penjual kaki lima. (Yang ada di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.) Aku juga terkesan dengan Taman Balekambang dan bus wisata tingkat duanya. Pelaksanaan CFD (Car Free Day) juga jauh lebih terkesan rapi dibanding dengan pelaksanaan CFD di Semarang.

Karena kiprah Jokowi ya? Wow.

Di luar dugaan kemudian Jokowi 'dibawa' hijrah ke ibukota! Meski tidak secara langsung mengikuti perkembangan politik di tanah air, waktu pilgub di Jakarta tahun 2012, aku yakin Jokowi bakal menang. Aku tidak peduli apakah waktu itu yang membawa ke Jakarta adalah Jusuf Kalla, Megawati, atau bahkan Prabowo Subianto. Aku tidak peduli. Jokowi seemed an honest and hardworking person. And trustworthy too!

Waktu itu pun diam-diam aku mulai berharap jika memang Jokowi adalah orang yang jujur, pekerja keras dan memiliki kredibilitas tinggi terhadap pekerjaannya, mengapa dia tidak dicalonkan jadi presiden ya dalam pilpres tahun 2014? Tapi kan dia baru menjelang dua tahun menjadi gubernur Jakarta. Bakal diprotes banyak orang ga ya?

Harapanku yang sifatnya diam-diam itu ternyata disambut oleh beberapa orang yang kukenal lewat FB, salah satunya Muhammad Amin yang banyak dikritik juga dipuja para facebooker Indonesia karena status-status spiritualnya yang kontroversial. Awal tahun 2013, dia bahkan sudah mulai menyebar 'harapan' atau 'kampanye' di FB untuk membawa Jokowi ke kursi nomor satu di Indonesia.

Aku senang. Honestly. Ada harapan baru untuk masa depan Indonesia!

Namun aku belum 'tergerak' untuk ikutan mengkampanyekan Jokowi di media sosial.

Usai pileg bulan April 2014 dan melihat perolehan suara PDIP yang kurang dari 20% membuatku miris. Namun satu hal yang membuatku akhirnya ikutan 'berkampanye' (semampuku) lewat media sosial adalah ketika seorang facebooker yang ada di list pertemananku, yang di tahun 2010 lalu pernah lumayan dekat dan sok curhat, membaptis diri sebagai 'srikandi gerindra'. Entah mengapa aku tidak terima. LOL.

Maka mulailah aku ngeshare link-link berita positif tentang Jokowi, dan ... link-link berita negatif terhadap PS. LOL. Tidak hanya lewat FB namun juga twitter. Mendadak kehidupan media sosial-ku begitu menggairahkan! Tak ketinggalan juga tentu aku pun memasang foto "I stand on the right side" untuk foto profile.


Hanya itu yang bisa kulakukan untuk -- semoga bisa -- mendongkrak jumlah para voter untuk mencoblos Jokowi. Selain juga menulis status agar tidak menjadi golput. Jika di pilpres sebelumnya golput adalah satu cara protes kepada negara, tahun ini golput berarti membiarkan capres yang tidak layak dipilih mendapat keuntungan dari kecuekan warga negara.

Well, pilpres sudah selesai. Jokowi sudah dinyatakan menang oleh KPU, meski saat ini kubu capres yang kalah masih berupaya menjegal Jokowi di MK. Bahkan mungkin ga akan berhenti di MK. Kubu mereka mungkin akan meneror pemerintahan Jokowi dengan cara-cara kasar seperti yang selama ini mereka lakukan. Semoga barisan relawan Jokowi akan terus diberi kekuatan untuk mendampingi Jokowi, hingga akhirnya kubu capres sebelah mengakui bahwa Jokowi-lah pilihan tepat untuk membawa perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik. (minimal bagiku hukum tak lagi tajam ke bawah namun tumpul ke atas; tak ada lagi diskriminasi terhadap kaum minoritas; semoga dilanjutkan dengan dibubarkannya front-front yang tidak jelas, hanya menyalahgunakan nama agama; KPK bekerja jauh lebih tegas dan tajam, tak ada perlindungan terhadap koruptor, meski pejabat tinggi sekalipun sehingga kasus korupsi berkurang atau menghilang sama sekali.)

Semoga pemerintahan Jokowi adalah titik tolak Indonesia baru, dipimpin oleh para pejabat yang memang hanya mengabdi untuk rakyat. Semoga!

PT56 21.40 15/08/2014

Senin, Agustus 26, 2013

Primitif = ketinggalan zaman?

Satu kali di kelas "Cultural Eras" yang diampu oleh Professor Hugh Egan, kita membahas tentang Christopher Columbus yang di satu waktu dielu-elukan oleh 'history' (yang bisa diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia 'kisahnya') sebagai seorang 'penemu' benua Amerika jelang akhir abad 15. Waktu ditemukan oleh Columbus dan crew-nya, benua Amerika tidak benar-benar kosong tanpa penghuni, karena sudah ada yang mendiami benua yang maha luas itu: sekelompok (atau mungkin juga berkelompok-kelompok karena mereka terbagi dalam suku-suku) manusia yang kemudian oleh Columbus disebut sebagai kaum "Indian". Padahal ini adalah 'penamaan' yang salah. Columbus waktu itu dalam ekspedisi untuk mencari kawasan Hindia / India yang kaya akan rempah-rempah, namun kemudian kapalnya ter'dampar' di benua Amerika. Merasa sudah sampai di kawasan yang dia cari, maka Columbus dkk menyebut kelompok manusia yang ditemui di benua Amerika sebagai "Indian".

Menurut 'history' alias kisahnya Columbus dia menemukan benua Amerika dimana para penduduknya hidup secara 'primitif' karena mereka tidak paham bahasa yang digunakan oleh kaum 'Native American' ini; karena kaum Native American ini memiliki tradisi dan gaya hidup yang berbeda dengan Columbus dan crew-nya.

Apakah 'primitif' itu?

Menurut Free Dictionary kata primitif berarti



  1. not derived from something else, primary or basic
  2. (a) of or relating to an earliest or original state, (b) being little evolved from an early ancestral type
  3. characterized by simplicity or crudity
  4. of or relating to a nonindustrial, often tribal culture
Mengacu ke arti kata primitif di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa kaum 'Native American' dianggap masih asli, belum mendapatkan banyak pengaruh dari budaya luar. Mereka memiliki tradisi dan budaya sendiri, misal cara berpakaian (konon mereka belum pernah melihat 'pantalon' yang telah menjadi busana orang-orang Eropa waktu itu, sehingga tidak tahu bagaimana cara mengenakan celana panjang :) Di satu buku yang pernah kubaca, ketika orang Native American itu diberi hadiah berupa celana panjang, dan si orang Eropa tidak mengajarinya bagaimana cara mengenakannya, si orang Native American ini naik ke atas pohon, sementara seorang temannya memegangi celana panjang, untuk kemudian orang yang naik ke atas pohon melompat ke dalam celana. Cara yang sama sekali tidak praktis. :)), cara bersosialisasi, cara bertahan hidup (mereka sudah tahu cara bercocok tanam dan berburu yang lebih 'canggih' ketimbang orang-orang Eropa), hingga bahasa. 

Semenjak Columbus 'menemukan' (yang di beberapa dekade terakhir kata 'menemukan' ini kemudian diganti 'menjajah' oleh orang-orang Amerika sendiri -- juga para sejara(h)wan terkini, lama kelamaan cara hidup orang-orang Native American berubah. Benua Amerika mungkin akan tetap sunyi jika Columbus tidak menemukannya, eh, menjajahnya. Namun mungkin kaum Native American akan tetap menjadi 'tuan' di tanah yang telah mereka diami sekian ratus tahun, dan tidak tereliminasi di 'reservation areas'. 

Apakah kemudian kita bisa mengatakan bahwa yang 'primitif' itu jelek? Ketinggalan zaman? 

*****

Beberapa abad setelah Columbus 'menemukan' Amerika dan kemudian berbondong-bondong orang Eropa -- diawali oleh orang-orang Inggris -- bermigrasi ke benua Amerika, orang-orang Eropa dari Portugal melakukan ekspedisi untuk mencari 'the real Hindia' dan menemukan rute ke Nusantara, masih dalam rangka berburu rempah-rempah. 

Kita tentu tahu kelanjutan kisah ini. Orang-orang Portugis itu tidak hanya melakukan perdagangan rempah-rempah dengan nenek moyang kita di bumi Nusantara, namun tinggal untuk menjajah. Dan 'history' di benua Amerika tentu juga terjadi di bumi Nusantara. Orang-orang Belanda yang kemudian menggantikan kedudukan orang Portugis tentu juga menganggap nenek moyang kita 'primitif', primitif yang sayangnya telah mengalami degradasi makna, karena kata primitif dimaknai sebagai ketinggalan zaman. Tata cara kehidupan nenek moyang kita pun mengalami perubahan agar tidak ketinggalan zaman, tradisi 'asli' nenek moyang kita pun berangsur-angsur menghilang. 

Salah satu tradisi yang hilang itu adalah cara berpakaian. Sangatlah dipahami jika nenek moyang kita berbusana yang terbuka -- misalnya topless -- karena kondisi negara kita yang tropis hingga cukup panas. Sementara itu para penjajah yang berasal dari negara yang berhawa dingin berpakaian lebih tertutup. Bisa dibayangkan jika kemudian nenek moyang kita -- terutama perempuan -- dijadikan 'tontonan' yang sangat eksotis bagi kaum penjajah. Dengan suka cita para kaum penjajah -- terutama laki-laki -- berbondong-bondong ke bumi Nusantara untuk mendapatkan tontonan gratis. (Ini bisa disimpulkan dari beberapa video yang diunggah di youtube.com misal di link ini If you are lucky, hope you still can open the link and watch it.) 

*****

Di satu kesempatan ketika konsultasi tesis dengan dosen pembimbing yang juga dikenal sebagai budayawan Jogja -- Professor Bakdi Soemanto -- beliau bercerita satu kali diajak oleh beberapa orang yang juga dianggap 'budayawan' untuk melakukan satu misi khusus ke Papua. Pak Bakdi bertanya misi apakah itu.

"Misi kita kali ini istimewa, yaitu mengajak saudara-saudara kita yang masih terbelakang untuk lebih bermoral karena masih mengenakan busana yang terbuka. Kita akan mengajak mereka meninggalkan tradisi primitif mereka dan mulai mengenakan busana tertutup."

Apakah lantas kata primitif selalu berkonotasi tidak bermoral? Siapa yang memberi hak pada sekelompok orang yang merasa diri lebih tinggi dibanding yang lain hanya gara-gara tradisi dan budaya yang berbeda? 

Dengan sengaja tulisan ini tidak kuakhiri dengan kesimpulan. The conclusion is in yours, readers. 

Beberapa foto yang kuunduh dari internet bisa dilihat di bawah ini. 
diunduh dari sana
diunduh dari link ini
diundah dari link situ 
diunduh dari link yang lain
Sedikit kisah tentang koteka bisa dilihat disini.

Salam budaya! Nothing higher nothing lower! 

GG 12.15 270813

Minggu, Juli 07, 2013

JALAN RAYA : MILIK SIAPA?

JALAN RAYA : MILIK SIAPA?

JALUR SEPEDA DI KOTA SEMARANG

Dengan semakin semaraknya jalan raya dengan para pesepeda, dan juga rasa ‘iri’ terhadap beberapa kota lain di Indonesia yang telah memiliki jalur sepeda, di tahun 2010 (tanggal 11 April dan 6 Juni 2010) Komunitas B2W (Bike to Work) Semarang mengadakan talk show yang diberi tajuk DESAK PEMERINTAH SEMARANG UNTUK MENYEDIAKAN JALUR SEPEDA DI KOTA SEMARANG. Di talk show yang kedua, Ari Purbono, selaku ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah waktu itu (yang juga diajukan sebagai calon wali kota Semarang oleh sebuah Partai Politik) berjanji bahwa jalur sepeda akan segera direalisasikan. Guntur Risyadmoko, salah satu keynote speaker dari Dinas Perhubungan mengiyakan pernyataan ini, paling lambat akhir tahun 2011.

Awal tahun 2012

jalur sepeda di Semarang, foto dijepret 7 Juli 2013

Jalur sepeda akhirnya memang ada di Semarang! Untuk mewujudkan janji menyediakan jalur sepeda, pemerintah memilih Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, Jalan Pahlawan, Jalan Ahmad Yani dan kawasan Simpang Lima, jalan-jalan utama kota Semarang. Jalur sepeda yang ditandai dengan marka garis berwarna kuning, dengan gambar sepeda di tengah-tengah, berada di sisi paling kiri, lebar sekitar satu meter. Jalur sepeda ini bisa didapati di dua jalur yang berlawanan, misal di Jalan Pemuda, di jalur yang menuju arah Utara, maupun di jalur yang menuju arah Selatan.

Akan tetapi ketika ditelusuri, jalur sepeda itu tidak benar-benar bisa dinikmati oleh para pesepeda, karena sering jalur itu justru dipakai untuk parkir mobil maupun motor. Apalagi di Jalan Pandanaran dimana terletak toko-toko yang berjualan makanan oleh-oleh asli Semarang. Di depan toko-toko tersebut, tak lagi terlihat jalur sepeda, karena dipenuhi dengan mobil yang berderet parkir.

Maka kemudian muncul tuduhan bahwa jalur sepeda ini akan mematikan ladang rezeki tukang parkir. Atau menyulitkan para pemilik usaha untuk menyediakan lahan parkir karena terbatasnya ruang yang ada.

Jika kemudian jalur sepeda itu tidak benar-benar dimanfaatkan untuk melajunya para pesepeda, lantas untuk apakah jalur sepeda itu disediakan? Hanya sekedar untuk menghamburkan uang rakyat? Lalu bagaimana menyelesaikan masalah parkir?

REBUT RUANG KOTA

Mulai pertengahan tahun 2010, ada gerakan “menyepedakan masyarakat” dengan jargon REBUT RUANG KOTA! Tidak jelas siapa yang melontarkan ide yang menggunakan istilah “critical mass” ini. Di Semarang event ini disebut “Semarang Critical Mass Ride” yang dilaksanakan setiap hari Jumat terakhir tiap bulan. Para pesepeda berkumpul di Jalan Pahlawan pukul 19.00 dan kemudian bersepeda bersama-sama keliling kota, sesuai rute yang dipilih pada hari itu.

nite ride 30 Juli 2010

Sesuai dengan jargonnya, gerakan ini konon diharapkan akan mampu merebut ruang kota hanya untuk para pesepeda, tak lagi ada tempat untuk mereka yang menaiki kendaraan bermotor. Di awal penyelenggaraannya, ratusan pesepeda yang hadir benar-benar memenuhi badan jalan di seluruh rute yang dilewati, hingga tak menyisakan tempat bagi pengguna jalan lain, tanpa ada “road captain” yang memimpin, tanpa “marshall” yang mengawasi para pesepeda, juga tanpa “sweeper” yang mengecek apakah ada peserta yang ketinggalan.

Bisa dibayangkan betapa kesalnya para pengguna jalan lain jika melihat kearoganan ini. Bukankah jalan raya itu milik bersama? Para pengendara kendaraan bermotor, pesepeda, juga pejalan kaki? Alih-alih menarik orang untuk beralih naik sepeda dan meninggalkan kendaraan bermotor mereka, justru gerakan “rebut ruang kota” ini akan membuat orang tak simpatik dengan para pesepeda. Akibatnya mereka akan tetap berkendaraan bermotor, tetap membutuhkan bahan bakar yang bakal habis satu saat nanti, dan terus menyebabkan polusi udara.

Sekitar dua tahun kemudian, “Semarang Critical Mass Ride” tak lagi ada pengikutnya. Entah mengapa.

JALUR SEPEDA DI PURWOKERTO

Bulan Maret 2013 aku dan Ranz berkesempatan gowes di kota Purwokerto, dalam rangkaian bikepacking Solo – Purwokerto. Kita sangat terkesan dengan jalur sepeda yang ada disana. Di salah satu jalan utamanya, Jalan Jendral Sudirman, kita dapati jalur sepeda hanya di satu sisi. Di jalan yang sama, di jalur yang berlawanan arah, di sisi paling pinggir kiri digunakan untuk parkir kendaraan bermotor. Maka, tak ada kendaraan bermotor yang menghalangi pesepeda menggunakan jalur yang disediakan buat mereka. Di beberapa tempat, kita menemukan poster yang bertuliskan “keselamatan jalan tanggung jawab kita semua; beri kesempatan pesepeda menggunakan lajurnya.”

beri kesempatan pesepeda menggunakan lajurnya

Ini adalah ide yang bagus untuk diterapkan di kota Semarang, mungkin juga di kota-kota lain. Jalur sepeda tetap ada dan dimanfaatkan oleh para pesepeda; lahan parkir di satu jalan pun tetap ada sehingga tidak mematikan ladang rezeki para tukang parkir. Para pengendara kendaraan bermotor pun tidak perlu bingung mencari tempat parkir.

PENUTUP

Undang-undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 2009 pasal 106 ayat 2 menjelaskan bahwa “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor wajib mengutamakan pejalan kaki dan pesepeda.” Ayat ini jelas mengatakan bahwa jalan raya itu milik semua yang menggunakannya, para pengendara kendaraan bermotor, pesepeda, juga pejalan kaki.

Dalam prakteknya, meski UU ini disahkan empat tahun lalu, ayat tersebut kurang dikenal masyarakat dengan bukti masih banyak ditemukan arogansi para pengendara kendaraan bermotor kepada para pesepeda, juga pejalan kaki. Sebagai seorang praktisi bike-to-work maupun pehobi bikepacking, terlalu banyak pengalaman tersingkirkan di jalanan, demi keselamatan diri dikarenakan hanya dipandang sebelah mata oleh pengguna jalan lain. Namun, tetap, semua orang berhak menggunakan jalan raya bersama-sama, dan saling menghormati pengguna jalan lain.

Nana Podungge
seorang bike-to-worker dan bikepacker


PT56 19.00 070713
Ada kesalahan di dalam gadget ini